Norjemah Pihtar UNTAN Presentasikan Prototipe di Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Barat

Editor: leoian790@gmail.com author photo

 


KALBARNEWS.CO.ID PONTIANAK, 15 September 2026 – Tim Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) Norjemah Pihtar Universitas Tanjungpura (UNTAN) melakukan kunjungan ke Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Barat untuk mempresentasikan prototipe inovasi penerjemah suara Bahasa Dayak Serawai Ambalau dan Bahasa Indonesia.

Dalam kegiatan tersebut, tim memperkenalkan prototipe Norjemah Pihtar yang dikembangkan sebagai perangkat penerjemah suara dua arah secara real-time dan offline. Inovasi tersebut ditujukan untuk membantu komunikasi sekaligus mendukung pelestarian Bahasa Dayak Serawai Ambalau melalui pemanfaatan teknologi digital.

Selain mempresentasikan prototipe, tim juga melakukan User Acceptance Testing (UAT) sebagai bagian dari proses validasi perangkat. Pengujian tersebut dilakukan untuk melihat penerimaan dan kesesuaian penggunaan prototipe dengan tujuan pengembangan Norjemah Pihtar.

Kepala Balai Pelestarian, Juliadi, S.S., M.Sc., menyambut baik inovasi yang dipresentasikan oleh tim Norjemah Pihtar. Ia menilai perangkat tersebut sudah sangat baik dan mengapresiasi upaya mahasiswa yang mengangkat bahasa dan budaya daerah melalui pemanfaatan teknologi.

“Alat ini sudah sangat bagus. Kami juga berterima kasih karena sudah mau mengangkat kebudayaan. Tentunya kami dukung penuh atas program ini karena program ini memang sangat luar biasa, apalagi mengangkat bahasa dan budaya yang memang jarang diangkat,” ujar Juliadi.

Juliadi juga menyampaikan ketertarikannya untuk mencoba dan mempraktikkan langsung penggunaan Norjemah Pihtar. Ia mengatakan keinginannya tersebut berkaitan dengan ketertarikannya untuk mengenal lebih banyak bahasa Dayak.

“Saya juga ingin mencoba dan praktik langsung menggunakan alat ini karena saya ingin tahu banyak bahasa Dayak ini,” katanya.

Selain memberikan apresiasi, Juliadi menyampaikan masukan untuk pengembangan Norjemah Pihtar. Ia mendorong tim untuk memperluas cakupan perangkat dengan menambahkan kosakata dan kalimat sehingga penggunaannya dapat menjangkau lebih banyak bentuk bahasa.

“Untuk pengembangannya juga boleh ditingkatkan lagi dengan menambah kosakata dan kalimat agar lebih luas,” ujar Juliadi.

Melalui kegiatan ini, tim memperoleh kesempatan untuk memperkenalkan inovasi yang menghubungkan perkembangan teknologi dengan upaya pelestarian bahasa dan budaya daerah. Bahasa Dayak Serawai Ambalau menjadi fokus pengembangan karena merupakan bagian dari kekayaan bahasa dan budaya yang perlu terus dijaga keberadaannya.

Norjemah Pihtar dirancang untuk menerjemahkan suara dari Bahasa Dayak Serawai Ambalau ke Bahasa Indonesia maupun sebaliknya secara langsung. Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi bagian dari pengembangan perangkat untuk mendukung proses penerjemahan suara tersebut.

Konsep offline juga menjadi salah satu bagian dari pengembangan Norjemah Pihtar. Dengan konsep tersebut, perangkat diarahkan agar dapat digunakan tanpa bergantung sepenuhnya pada koneksi internet, sehingga lebih memungkinkan untuk diterapkan pada wilayah dengan keterbatasan akses jaringan.

Pelaksanaan UAT menjadi salah satu tahapan penting bagi tim dalam menyempurnakan Norjemah Pihtar. Hasil pengujian dan masukan yang diperoleh akan digunakan sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan fungsi serta kesiapan perangkat sebelum dikembangkan lebih lanjut.

Pengembangan Norjemah Pihtar dilakukan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) Tahun 2026 dan mendapat dukungan pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Tahun 2026. Dukungan tersebut menjadi bagian dari proses pengembangan prototipe dan pelaksanaan tahapan pengujian inovasi.

Tim Norjemah Pihtar terdiri atas Muhammad Zulkifli sebagai ketua, serta Daffa Naufal A’bari, Tarisa Arselia, dan Selsa sebagai anggota, dengan Khairul Hafidh, S.T., M.Kom. sebagai dosen pembimbing.

Kunjungan ke Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Barat menjadi salah satu langkah tim dalam mengembangkan Norjemah Pihtar sebagai inovasi yang tidak hanya berorientasi pada teknologi, tetapi juga memiliki manfaat dalam mendukung pelestarian bahasa dan budaya daerah.

Melalui Norjemah Pihtar, tim mahasiswa UNTAN berupaya memanfaatkan teknologi untuk memberikan ruang bagi Bahasa Dayak Serawai Ambalau agar tetap dapat digunakan, dikenali, dan dikembangkan di tengah kemajuan teknologi. Presentasi prototipe, validasi UAT, serta masukan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Barat menjadi bagian dari upaya memastikan inovasi tersebut terus berkembang sesuai dengan tujuan yang telah dirancang.

Share:
Komentar

Berita Terkini