KALBARNEWS.CO.ID PONTIANAK, 15 September 2026 – Tim Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) Norjemah Pihtar Universitas Tanjungpura (UNTAN) melakukan kunjungan ke Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Barat untuk mempresentasikan prototipe inovasi penerjemah suara Bahasa Dayak Serawai Ambalau dan Bahasa Indonesia.
Dalam kegiatan
tersebut, tim memperkenalkan prototipe Norjemah Pihtar yang dikembangkan
sebagai perangkat penerjemah suara dua arah secara real-time dan offline.
Inovasi tersebut ditujukan untuk membantu komunikasi sekaligus mendukung
pelestarian Bahasa Dayak Serawai Ambalau melalui pemanfaatan teknologi digital.
Selain
mempresentasikan prototipe, tim juga melakukan User Acceptance Testing (UAT)
sebagai bagian dari proses validasi perangkat. Pengujian tersebut dilakukan
untuk melihat penerimaan dan kesesuaian penggunaan prototipe dengan tujuan
pengembangan Norjemah Pihtar.
Kepala Balai
Pelestarian, Juliadi, S.S., M.Sc., menyambut baik inovasi yang dipresentasikan
oleh tim Norjemah Pihtar. Ia menilai perangkat tersebut sudah sangat baik dan
mengapresiasi upaya mahasiswa yang mengangkat bahasa dan budaya daerah melalui
pemanfaatan teknologi.
“Alat ini sudah
sangat bagus. Kami juga berterima kasih karena sudah mau mengangkat kebudayaan.
Tentunya kami dukung penuh atas program ini karena program ini memang sangat
luar biasa, apalagi mengangkat bahasa dan budaya yang memang jarang diangkat,”
ujar Juliadi.
Juliadi juga
menyampaikan ketertarikannya untuk mencoba dan mempraktikkan langsung
penggunaan Norjemah Pihtar. Ia mengatakan keinginannya tersebut berkaitan
dengan ketertarikannya untuk mengenal lebih banyak bahasa Dayak.
“Saya juga ingin
mencoba dan praktik langsung menggunakan alat ini karena saya ingin tahu banyak
bahasa Dayak ini,” katanya.
Selain memberikan
apresiasi, Juliadi menyampaikan masukan untuk pengembangan Norjemah Pihtar. Ia
mendorong tim untuk memperluas cakupan perangkat dengan menambahkan kosakata
dan kalimat sehingga penggunaannya dapat menjangkau lebih banyak bentuk bahasa.
“Untuk
pengembangannya juga boleh ditingkatkan lagi dengan menambah kosakata dan
kalimat agar lebih luas,” ujar Juliadi.
Melalui kegiatan
ini, tim memperoleh kesempatan untuk memperkenalkan inovasi yang menghubungkan
perkembangan teknologi dengan upaya pelestarian bahasa dan budaya daerah.
Bahasa Dayak Serawai Ambalau menjadi fokus pengembangan karena merupakan bagian
dari kekayaan bahasa dan budaya yang perlu terus dijaga keberadaannya.
Norjemah Pihtar
dirancang untuk menerjemahkan suara dari Bahasa Dayak Serawai Ambalau ke Bahasa
Indonesia maupun sebaliknya secara langsung. Penggunaan teknologi kecerdasan
buatan (AI) menjadi bagian dari pengembangan perangkat untuk mendukung proses
penerjemahan suara tersebut.
Konsep offline
juga menjadi salah satu bagian dari pengembangan Norjemah Pihtar. Dengan konsep
tersebut, perangkat diarahkan agar dapat digunakan tanpa bergantung sepenuhnya
pada koneksi internet, sehingga lebih memungkinkan untuk diterapkan pada
wilayah dengan keterbatasan akses jaringan.
Pelaksanaan UAT
menjadi salah satu tahapan penting bagi tim dalam menyempurnakan Norjemah
Pihtar. Hasil pengujian dan masukan yang diperoleh akan digunakan sebagai bahan
evaluasi untuk meningkatkan fungsi serta kesiapan perangkat sebelum
dikembangkan lebih lanjut.
Pengembangan
Norjemah Pihtar dilakukan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta
(PKM-KC) Tahun 2026 dan mendapat dukungan pendanaan Program Kreativitas
Mahasiswa (PKM) Tahun 2026. Dukungan tersebut menjadi bagian dari proses
pengembangan prototipe dan pelaksanaan tahapan pengujian inovasi.
Tim Norjemah
Pihtar terdiri atas Muhammad Zulkifli sebagai ketua, serta Daffa Naufal A’bari,
Tarisa Arselia, dan Selsa sebagai anggota, dengan Khairul Hafidh, S.T., M.Kom.
sebagai dosen pembimbing.
Kunjungan ke
Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Barat menjadi salah satu langkah tim
dalam mengembangkan Norjemah Pihtar sebagai inovasi yang tidak hanya
berorientasi pada teknologi, tetapi juga memiliki manfaat dalam mendukung
pelestarian bahasa dan budaya daerah.
Melalui Norjemah
Pihtar, tim mahasiswa UNTAN berupaya memanfaatkan teknologi untuk memberikan
ruang bagi Bahasa Dayak Serawai Ambalau agar tetap dapat digunakan, dikenali,
dan dikembangkan di tengah kemajuan teknologi. Presentasi prototipe, validasi
UAT, serta masukan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Barat menjadi
bagian dari upaya memastikan inovasi tersebut terus berkembang sesuai dengan
tujuan yang telah dirancang.
