Kecelakaan Libatkan Pelajar Marak, Sujiwo: Keselamatan Anak Bukan Hanya Tanggung Jawab Sekolah
KALBARNEWS.CO.ID (KUBU RAYA) — Maraknya kecelakaan lalu lintas yang melibatkan anak sekolah mendapat perhatian serius dari Bupati Kubu Raya Sujiwo. Ia menilai keselamatan pelajar di jalan raya tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga membutuhkan pengawasan kuat dari keluarga.
Sujiwo menyoroti sejumlah pelanggaran yang kerap dilakukan pelajar saat berkendara, mulai dari tidak menggunakan helm, berboncengan lebih dari dua orang hingga mengendarai sepeda motor meski belum cukup umur dan belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan masih lemahnya pengawasan terhadap anak, baik dari lingkungan keluarga maupun sekolah.
“Kalau benar ini anak di bawah umur, tidak mungkin dia mendapatkan SIM. Kemudian tidak pakai helm, berboncengan sampai tiga orang. Ini harus menjadi catatan besar bagi kita semua,” tegas Sujiwo.
Ia juga menanggapi kecelakaan yang melibatkan kendaraan besar seperti truk tronton. Menurutnya, pengemudi kendaraan berat harus lebih berhati-hati dan mengutamakan keselamatan pengguna jalan lainnya.
“Pengendara tronton juga harus hati-hati, mengutamakan keselamatan umum. Jangan parkir sembarangan dan kecepatan juga harus diatur,” ujarnya.
Di sisi lain, Sujiwo meminta pihak sekolah terus memberikan edukasi dan pengawasan kepada pelajar mengenai keselamatan berlalu lintas. Namun, ia menegaskan peran keluarga justru sangat besar karena waktu anak lebih banyak berada di rumah dibandingkan di sekolah.
“Anak-anak kita di sekolah mungkin dari jam 07.00 sampai jam 13.00. Selebihnya, waktu mereka lebih banyak di rumah. Artinya peran bapak ibu dan orang tua sangat besar terhadap keselamatan anak-anak kita,” katanya.
Sujiwo mengingatkan orang tua agar tidak memberikan kendaraan bermotor kepada anak yang belum cukup umur. Menurutnya, rasa sayang kepada anak seharusnya diwujudkan melalui perlindungan dan pengawasan, bukan justru memberikan kebebasan berkendara tanpa mempertimbangkan keselamatan.
“Sayang dengan anak bukan seperti itu caranya. Kalau anak masih di bawah umur, belum punya SIM, kemudian diberikan kendaraan, akibatnya bisa seperti ini,” tegasnya.
Ia berharap kejadian kecelakaan yang melibatkan pelajar menjadi momentum evaluasi bersama. Sekolah, keluarga, dan seluruh pengguna jalan harus mengambil peran agar anak-anak tidak terus menjadi korban kecelakaan lalu lintas.
“Kasihan anak-anak akan menjadi korban karena lemahnya pengawasan keluarga maupun sekolah. Ini harus menjadi catatan khusus dan catatan besar untuk kita semuanya,” pungkas Sujiwo. (tim Liputan)
Editor : Aan