KALBARNEWS.CO.ID (JAKARTA) – Galeri Indonesia Kaya
kembali menghadirkan rangkaian pertunjukan akhir pekan dan program Ruang
Kreatif sepanjang September sebagai ruang bagi masyarakat untuk mengenal
sekaligus mengalami langsung keberagaman seni dan budaya Indonesia. 
Sepanjang September, Galeri Indonesia Kaya Hadirkan Ragam Cara untuk Mengenal dan Menghidupkan Seni Budaya Indonesia
Menghadirkan musik, tari, hingga pertunjukan lintas media dari berbagai daerah, rangkaian program bulan ini mempertemukan warisan budaya Nusantara dengan cara penyajian yang beragam dan relevan bagi penonton masa kini. (29 Septeber 2026).
Melalui rangkaian
pertunjukan dan Ruang Kreatif, Galeri Indonesia Kaya tidak hanya menghadirkan
kekayaan tradisi Indonesia sebagai tontonan, tetapi juga membuka kesempatan
bagi masyarakat untuk berinteraksi, mempelajari, hingga turut memperkenalkan
kembali seni budaya tersebut melalui pengalaman berkesenian secara langsung.
“Indonesia tidak pernah kehabisan kekayaan seni dan budaya untuk terus diperkenalkan dan dihidupkan kembali di tengah masyarakat. Galeri Indonesia Kaya hadir sebagai ruang publik untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia sekaligus melihat bagaimana tradisi dapat tetap relevan bagi generasi masa kini.
Melalui rangkaian program di bulan September ini, kami menghadirkan pengalaman yang tidak hanya menyuguhkan berbagai pertunjukan, tetapi juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk berinteraksi dan terlibat langsung dalam seni dan budaya, bahkan menampilkan hasil pembelajaran di hadapan publik.
Dengan demikian, kami berharap seni dan
budaya Indonesia dapat terus dikenal, diapresiasi, dan tetap hidup di tengah
masyarakat,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Galeri
Indonesia Kaya.
Rangkaian program September dibuka pada 5 September melalui Harmoni Nusantara persembahan Ikreasindo. Pertunjukan ini menghadirkan keberagaman budaya Indonesia melalui perpaduan musik, vokal, dan interaksi bersama penonton.
Dibuka dengan lagu Janger dari
Bali, pertunjukan berlanjut dengan Sing Sing So dan Rame-Rame sebelum mengajak
penonton memainkan angklung bersama. Pertunjukan kemudian ditutup dengan Medley
Nusantara yang merangkum berbagai lagu daerah sebagai gambaran kebersamaan
dalam keberagaman.
Pada 6 September, Galeri Indonesia Kaya berkolaborasi dengan Jakarta Poetry Slam menghadirkan “NgeZine Yuk! Dengan Ika Vantiani”, sebuah ruang kreatif yang mengajak peserta menuangkan cerita dan ekspresi personal ke dalam bentuk zine, sebuah media alternatif yang biasanya dibuat secara mandiri dengan bentuk yang beragam, mulai dari kumpulan tulisan, ilustrasi, hingga kolase, yang kemudian dicetak dan diperbanyak secara sederhana.
Bersama Ika Vantiani, seorang
seniman, kurator, dan perajin asal Jakarta, peserta diajak melihat proses
berkarya sebagai cara untuk merefleksikan diri, berbagi cerita, serta
meninggalkan jejak kecil melalui karya. Melalui kolase dan eksplorasi medium zine,
kegiatan ini membuka ruang bagi siapa saja untuk menyuarakan cerita dan
pengalaman mereka dalam bentuk karya yang sederhana namun personal.
Memasuki pekan berikutnya, Galeri Indonesia Kaya menghadirkan Ruang Kreatif: Kelas Alat Musik Sape bersama musisi dan komposer asal Kalimantan Utara, Uyau Moris, pada 7–10 September. Peserta berkesempatan mengenal lebih dekat sape, alat musik petik tradisional khas suku Dayak Kenyah, sekaligus mempelajari cara memainkannya.
Setelah mengikuti rangkaian kelas, peserta kemudian mendapat
kesempatan menampilkan hasil pembelajarannya melalui uji pentas pada 12
September di hadapan penonton Galeri Indonesia Kaya.
Pada hari yang sama, Uyau Moris menghadirkan pertunjukan Borneo Sounds of Heritage: Vibrasi Dawai Dayak. Menempatkan sape sebagai sorotan utama pertunjukan, karya lintas media ini membawa penonton ke dalam perjalanan kultural masyarakat Dayak, mulai dari kehidupan di tengah hutan Kalimantan hingga perjumpaan dengan perkembangan zaman.
Alunan sape dipadukan dengan iringan musik modern memperlihatkan
bagaimana instrumen tradisional dapat terus berkembang dan berdialog dengan
bentuk kesenian masa kini tanpa kehilangan identitas budayanya.
Kegiatan seni budaya di
Galeri Indonesia Kaya juga dilengkapi dengan format yang lebih modern melalui Live
Podcast Cerita Rakyat bersama RAPOT. Podcast yang digawangi oleh
Reza, Anka, Radhini, dan Abigail ini mengangkat legenda Nyi Roro Kidul
dengan gaya bercerita khas RAPOT, menghadirkan kembali cerita rakyat Indonesia
melalui format yang dekat dengan keseharian masyarakat masa kini.
Rangkaian Ruang Kreatif kemudian berlanjut melalui Kelas Tari Gagak Koncar bersama Jugala Raya pada 14–17 September. Peserta diajak mengenal dan mempelajari Tari Gagak Koncar, salah satu bentuk tari Jaipongan dari Tanah Sunda yang menggambarkan keberanian, kesetiaan, dan kebijaksanaan dalam menghadapi tantangan kehidupan.
Setelah mengikuti empat sesi pembelajaran, peserta menampilkan hasil latihan melalui uji pentas pada 19 September yang sekaligus menjadi pembuka pertunjukan NISKALA – Suara Kepulauan oleh Svbito String Quartet feat Dhea Seto. Pertunjukan ini mengajak penonton melakukan perjalanan musikal melalui cerita dan kekayaan budaya dari berbagai wilayah Indonesia.
Empat musisi perempuan dari Svbito String Quartet membawakan
lagu-lagu daerah yang telah diaransemen khusus untuk format string quartet,
sementara Dhea Seto hadir sebagai penari tunggal yang menerjemahkan karakter
dan nilai dari setiap daerah melalui gerak dan ekspresi.
Menutup rangkaian program September, Galeri Indonesia Kaya menghadirkan Warih persembahan Kelompok Kesenian Tambua Tansa Sabariyah pada 26 September. Karya ini mengangkat perjalanan sebuah tradisi dalam kehidupan masyarakat, termasuk bagaimana nilai-nilai budaya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya serta bagaimana masyarakat menerima perubahan yang menyertai perjalanan tersebut.
Melalui tabuhan tambua khas masyarakat Danau Maninjau, Warih merefleksikan
jejak perjuangan, kemenangan, sekaligus tantangan yang hadir dalam proses
menjaga sebuah warisan budaya. Kelompok Kesenian Tambua Tansa Sabariyah sendiri
telah berdiri sejak 1994 dan kini berkembang hingga generasi ke-10, dengan
komitmen untuk mempertahankan nilai-nilai budaya nagari dan identitas
masyarakat Danau Maninjau.
Rangkaian program
sepanjang September menunjukkan berbagai cara untuk menjaga seni dan budaya
Indonesia tetap hidup. Dari permainan angklung, menuangkan cerita melalui zine,
mempelajari seni tari dan musik tradisional, menikmati cerita rakyat dalam
format live podcast, menyaksikan pertemuan musik tradisional dengan
ekspresi kontemporer, hingga merefleksikan perjalanan sebuah tradisi dari
generasi ke generasi, Galeri Indonesia Kaya menghadirkan pengalaman yang
memungkinkan masyarakat untuk tidak hanya mengenal budaya Nusantara, tetapi
juga menjadi bagian dari keberlangsungannya.
Masyarakat yang ingin
menyaksikan berbagai pertunjukan dan mengikuti program Ruang Kreatif Galeri
Indonesia Kaya dapat memperoleh informasi mengenai jadwal serta program
mendatang melalui IndonesiaKaya.com. (Tim Liputan)
Editor : Aan