Kawal Pelajaran Jarak Jauh Akibat Asap Tebal Di Kalbar, Peran Setiap Pihak Menjadi Kunci Keberhasilan

Editor: Redaksi author photo

 Naidi Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Untan Sekaligus Eks  Sekretaris Bidang Pendidikan Dan Kebudayaan GMNI Kalimantan Barat.
KALBARNEWS.CO.ID (PONTIANAK) - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan kembali menyelimuti Kalimantan Barat. Hingga awal September 2026, kualitas udara di sejumlah wilayah sudah masuk kategori tidak sehat hingga berbahaya.


Data BMKG dan Dinas LHK Kalbar mencatat ISPU di Pontianak, Kubu Raya, Ketapang, Sintang, hingga Sambas berada pada level tebal dan berbahaya. Jarak pandang menurun, aktivitas luar ruangan dibatasi, dan keluhan ISPA di masyarakat meningkat.


Kondisi ini memaksa banyak sekolah beralih ke Pembelajaran Jarak Jauh atau PJJ demi melindungi kesehatan siswa.


Namun di lapangan, PJJ kembali menimbulkan tantangan baru: keterbatasan gawai, sinyal internet, hingga menurunnya semangat belajar anak.


Karena itu, banyak pihak mendesak agar PJJ tidak hanya menjadi kebijakan di atas kertas, tetapi benar-benar “dikawal” bersama oleh sekolah, pemerintah, dan keluarga.


Naidi mahasiswa asal Sambas, menyoroti pentingnya peran orang tua dalam mengawal PJJ di tengah bencana asap yang kini juga melanda daerahnya.


“Di Sambas sekarang asapnya sudah tebal sekali. Anak-anak terancam kesehatannya jika keluar rumah, mau tidak mau harus dengan mekanisme PJJ. Masalahnya, tidak semua anak punya kemandirian belajar di rumah. Di sinilah peran orang tua sangat menentukan,” ujar Naidi.


Menurutnya, kesehatan siswa harus jadi prioritas utama saat ini. Asap tebal bukan hanya mengganggu pembelajaran, tapi juga mengancam saluran pernapasan anak.


“Kesehatan adalah fondasi untuk masa depan. Kalau anak sakit-sakitan karena asap, bagaimana mereka bisa fokus belajar dan meraih cita-cita? PJJ ini bentuk perlindungan. Tapi agar berhasil, orang tua harus ikut mengawal, karena yang paling dekat dan paling tahu kondisi anak yakni orangtuanya sendiri” tegas Naidi.


“Orang tua cukup temani, tanyakan sudah belajar belum, siapkan tempat yang nyaman, dan batasi main game. Pastikan anak pakai masker saat harus keluar, banyak minum air putih, dan jaga pola makan. Itu merupakan beberapa bentuk nyata mengawal PJJ,” tambahnya.


Dinas Pendidikan Kalbar mencatat, keberhasilan PJJ sangat bergantung pada 3 pilar: guru yang kreatif, dukungan pemerintah, dan keterlibatan orang tua.


Ke depan, selain memastikan kuota internet dan modul belajar, sekolah juga diminta rutin berkomunikasi dengan wali murid agar pemantauan belajar bisa berjalan dua arah.


“Selama asap masih ada, mari kita kawal bersama. Pemerintah buat kebijakan, guru buat pembelajaran, orang tua kawal di rumah. Jangan sampai asap menutup langit Kalbar, lalu ikut menutup masa depan anak-anak kita,” tutup Naidi.


Hingga pertengahan September 2026, BMKG memprediksi potensi asap masih tinggi. Di tengah keterbatasan itu, menjaga kesehatan dan semangat belajar anak harus berjalan beriringan agar pendidikan di Kalbar tidak terhenti. (Tim Liputan)

Editor : Aan

Share:
Komentar

Berita Terkini