DAD Kota Pontianak Dukung Pengembangan Norjemah Pihtar UNTAN untuk Pelestarian Bahasa Dayak

Editor: leoian790@gmail.com author photo

 


KALBARNEWS.CO.ID PONTIANAK – Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Pontianak memberikan dukungan terhadap pengembangan Norjemah Pihtar, inovasi mahasiswa Universitas Tanjungpura (UNTAN) berupa alat penerjemah suara Bahasa Dayak Serawai Ambalau dan Bahasa Indonesia.

Dukungan tersebut disampaikan Wakil I DAD Kota Pontianak, Alexandra Djaoeng, S.H., saat audiensi bersama Tim Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) Norjemah Pihtar. Dalam pertemuan tersebut, tim mempresentasikan prototipe serta menjelaskan fungsi dan pengembangan alat yang dirancang untuk menerjemahkan Bahasa Dayak Serawai Ambalau dan Bahasa Indonesia secara real-time dan offline.

“Alat ini sangat bagus. Kami dari Dewan Adat Dayak Pontianak sangat mendukung penuh atas pengembangan inovasi ini. Apa pun itu pasti kami dukung untuk tim yang menciptakan dan mengembangkan alat ini. Intinya nanti informasikan ke DAD kita,” ujar Alexandra.

Alexandra menilai pengembangan Norjemah Pihtar relevan dengan kondisi Bahasa Dayak Serawai Ambalau yang menurutnya cukup sulit dipahami. Ia mengapresiasi upaya mahasiswa UNTAN dalam mengembangkan teknologi yang dapat membantu penerjemahan bahasa daerah.

“Bahasa Dayak Serawai Ambalau ini termasuk bahasa Dayak yang memang agak sulit, jadi sangat relevan dengan inovasi yang kalian kembangkan ini. Luar biasa ini, saya kasih jempol,” katanya.

Pandangan tersebut turut diperkuat oleh Ketua Dewan Adat Dayak Provinsi Kalimantan Barat yang mendukung upaya pengembangan inovasi yang berkaitan dengan pelestarian bahasa dan budaya Dayak. Dukungan tersebut menjadi dorongan bagi tim Norjemah Pihtar untuk terus mengembangkan perangkat penerjemah Bahasa Dayak Serawai Ambalau dan Bahasa Indonesia.

Alexandra berharap ke depan semakin banyak penerjemah digital yang dapat membantu menerjemahkan bahasa-bahasa daerah yang sulit dipahami. Menurutnya, inovasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga dapat mendukung pengembangan budaya, komunikasi di daerah, serta pelestarian bahasa dan budaya Dayak.

“Harapan kita juga memang agar ada penerjemah digital yang bisa menerjemahkan bahasa-bahasa daerah yang terbilang cukup sulit dipahami,” ujar Alexandra.

Alexandra juga menyampaikan peluang untuk memperkenalkan Norjemah Pihtar dalam kegiatan kebudayaan Dayak. Ia menyebut perangkat tersebut dapat diperkenalkan sebagai hasil karya mahasiswa yang mengembangkan alat penerjemah digital untuk mendukung bahasa dan budaya daerah.

“Nanti disampaikan bahwa ini adalah hasil mahasiswa kita yang membuat alat penerjemah digital, tujuannya untuk pengembangan budaya, alat komunikasi di daerah, dan pelestarian bahasa dan budaya juga,” katanya.

Norjemah Pihtar dikembangkan oleh Muhammad Zulkifli selaku ketua tim bersama Daffa Naufal A’bari, Tarisa Arselia, dan Selsa, di bawah bimbingan Khairul Hafidh, S.T., M.Kom. Inovasi tersebut mendapat pendanaan dari Belmawa Kementerian Sains dan Teknologi (Kemensaintek) melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) Tahun 2026.

Alexandra mengatakan DAD Kota Pontianak terbuka untuk berkoordinasi dengan tim terkait dukungan terhadap pengembangan Norjemah Pihtar dan memperkenalkan inovasi tersebut kepada pihak lain setelah perangkat selesai dikembangkan.

“Intinya DAD dukung penuh karena temuan baru seperti ini sangat mahal. Intinya semangat lah ya, jangan minder dan jangan mikir yang tidak-tidak untuk ke depannya. Nanti setelah kalian selesaikan dan selesai presentasi, update saja ke kami dan kita tentukan langkah berikutnya,” ujarnya.


Share:
Komentar

Berita Terkini