![]() |
| Binance mengalami peretasan besar dengan aset kripto sekitar Rp114 triliun |
KALBARNEWS.CO.ID (JAKARTA) – Bursa
kripto Binance diguncang serangan siber besar setelah sekitar US$6,3 miliar
atau setara Rp114 triliun aset kripto dicuri dalam sebuah insiden yang sebagian
besar berlangsung hanya sekitar 20 menit.
Dilansir dalam keterangan resmi
The Athletic pada Sabtu, (31/10/2026) peretasan tersebut menjadi salah satu
insiden terbesar dalam sejarah aset digital.
Berdasarkan catatan blockchain,
aktivitas transaksi mencurigakan mulai terdeteksi pada Kamis (29/10/2026) malam
waktu setempat.
Sebagian besar pencurian
berlangsung dalam rentang sekitar 20 menit. Analisis terhadap aktivitas
blockchain juga menunjukkan adanya transaksi tidak biasa dari dompet yang
terdampak.
Binance kemudian melakukan
investigasi untuk mencari sumber serangan. Pada awalnya, perusahaan menduga
insiden tersebut berkaitan dengan laptop yang telah disusupi.
Namun, penyelidikan lanjutan
menemukan adanya titik masuk lain ke dalam sistem.
"Investigasi lanjutan kami
telah menemukan titik-titik peretasan tambahan," tulis Binance dalam
pernyataan resminya di platform X.
Perusahaan analisis blockchain
TRM Labs menyebut serangan tersebut diduga menyasar infrastruktur signing
Binance, yakni sistem yang digunakan untuk mengotorisasi transaksi.
Dengan akses tersebut, penyerang
diduga dapat mengeluarkan instruksi untuk melakukan penarikan dari dompet yang
terdampak.
Binance dalam pembaruan resminya
menyatakan insiden tersebut menyebabkan sekitar US$6,3 miliar aset token
terdampak. Perusahaan juga menyebut belum menemukan bukti bahwa private key
dompet bocor.
Binance Tanggung Kerugian
Pengguna
Di tengah penyelidikan, Binance
memastikan pengguna tidak akan menanggung kerugian akibat pencurian tersebut.
Binance menyatakan akan
menanggung seluruh kerugian melalui Secure Asset Fund for Users (SAFU) dan dana
perusahaan.
Dalam pembaruan 30 Oktober,
Binance mengatakan telah menyiapkan lebih dari US$6,34 miliar dana perusahaan
untuk menutup dampak insiden tersebut.
Sekitar US$5 miliar di antaranya
sudah tersedia dalam aset token yang sesuai dengan aset yang terdampak.
Binance juga bekerja sama dengan
perusahaan analisis blockchain, penerbit aset, aparat penegak hukum, dan
sejumlah pihak lain untuk melacak dana hasil pencurian.
Sekitar US$3 miliar aset yang
terdampak disebut telah berhasil dibekukan secara on-chain. Proses pelacakan
dan pemulihan aset masih berlangsung.
Sebagai langkah pengamanan,
Binance sempat menghentikan layanan penarikan untuk melakukan pemeriksaan
keamanan tambahan dan memastikan sistem yang terdampak telah aman.
Identitas pelaku hingga kini
belum dipastikan secara resmi.
CEO Binance Richard Teng
menyatakan investigasi internal masih dilakukan untuk mengetahui pihak yang
bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Namun, sejumlah perusahaan
analisis blockchain melihat kemiripan pola serangan dengan operasi siber yang
sebelumnya dikaitkan dengan kelompok peretas Korea Utara.
TRM Labs menilai pola serangan
terhadap Binance memiliki kemiripan dengan serangan terhadap bursa kripto Bybit
pada 2025 yang sebelumnya dikaitkan FBI dengan kelompok peretas Korea Utara.
Meski demikian, kemiripan pola
tersebut belum dapat dijadikan sebagai konfirmasi bahwa peretasan Binance
dilakukan oleh kelompok dari Korea Utara. Investigasi terhadap identitas pelaku
masih berlangsung.
Insiden tersebut juga memberikan
tekanan terhadap pasar kripto. Harga sejumlah aset digital melemah setelah
kabar pencurian menyebar, sementara nilai pasar stablecoin turut mengalami
penurunan.
Binance mengatakan investigasi
teknis masih berlanjut dan perusahaan berencana menerbitkan laporan teknis
lebih lengkap setelah seluruh fakta terverifikasi.* (tim liputan).
