![]() |
| Ketua BEM SI Kalimantan Barat, Fadil Maulana |
KALBARNEWS.CO.ID (PONTIANAK) —
Mahasiswa di Kalimantan Barat kembali menggelar aksi unjuk rasa bertajuk Seruan
Aksi Kalbar Revolusi pada Rabu (21/10/2026). Aksi yang dipusatkan di Bundaran
Tugu Digulis Universitas Tanjungpura (Untan) dan Kantor Gubernur Kalimantan
Barat itu menyoroti sejumlah persoalan daerah dan nasional, mulai dari
penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), transparansi anggaran, hingga dugaan
tindakan represif terhadap mahasiswa.
Dalam aksi yang diperkirakan
diikuti sekitar 700 orang tersebut, massa mengenakan pakaian serba hitam
sebagai simbol perlawanan dan keprihatinan terhadap berbagai persoalan yang
mereka nilai belum mendapat penyelesaian memadai.
Massa terlebih dahulu berkumpul
di Bundaran Digulis Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Pontianak Tenggara, sekitar
pukul 15.00 WIB. Setelah menyampaikan orasi, peserta kemudian bergerak dengan
berjalan kaki menuju Kantor Gubernur Kalimantan Barat.
Setibanya di lokasi, massa
kembali menyampaikan aspirasi. Aksi juga diwarnai pembakaran ban dan blokade di
sepanjang Jalan Ahmad Yani sekitar pukul 18.00 WIB, sehingga berpotensi
mengganggu kelancaran arus lalu lintas di kawasan tersebut.
Salah satu tuntutan utama massa
adalah meminta Gubernur Kalimantan Barat mundur dari jabatannya. Mereka juga
mendesak pemerintah provinsi membuka transparansi anggaran serta menjelaskan
langkah-langkah penanganan karhutla di Kalimantan Barat.
Soroti 22 Persoalan Nasional
Selain persoalan daerah, gerakan
Kalbar Revolusi turut mengangkat daftar persoalan nasional yang dinilai perlu
mendapat perhatian serius pemerintah. Dalam materi tuntutan yang beredar
melalui media sosial, massa mengusung slogan, “Semua Masalah di Indonesia Ini
Solusinya Adalah REVOLUSI.”
Adapun 22 poin persoalan yang
disuarakan dalam materi tersebut meliputi:
- Tuntutan rakyat yang dinilai tidak pernah
dilaksanakan.
- Kompetensi pejabat yang dipersoalkan.
- Tidak adanya langkah mitigasi bencana alam yang
dinilai memadai.
- Dugaan karhutla yang direncanakan.
- Persoalan keracunan massal dalam pelaksanaan
program Makan Bergizi Gratis (MBG).
- Kondisi ekonomi yang dinilai memburuk.
- Kenaikan kebutuhan pokok.
- Rendahnya kesejahteraan pekerja serta
persoalan jaminan dan perlindungan tenaga kerja.
- Ancaman terhadap kesehatan masyarakat.
- Ancaman terhadap demokrasi yang dikaitkan
dengan buzzer, ormas bayaran, dan dugaan pengaturan algoritma media
sosial.
- Dugaan peningkatan anggaran untuk buzzer.
- Pendidikan yang dinilai belum menjadi
prioritas.
- Sentralisasi kekuasaan.
- Pelemahan otonomi daerah.
- Korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
- Birokrasi yang dinilai carut-marut.
- Buruknya infrastruktur politik yang dianggap
dapat melahirkan pemimpin bermasalah.
- Kerusakan infrastruktur dasar.
- Kebijakan yang dinilai tidak didasarkan pada
kajian ilmiah.
- Krisis air dan bahan bakar minyak (BBM).
- Dugaan pengesahan atau pembenaran praktik
penggusuran paksa.
- Perluasan kewenangan TNI dan Polri yang
dinilai perlu dikritisi.
Ketua BEM SI Kalbar Soroti Transparansi dan Penegakan Hukum
Ketua
BEM SI Kalimantan Barat, Fadil Maulana menyatakan bahwa tuntutan mahasiswa
terkait transparansi anggaran, penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla),
serta dugaan kekerasan terhadap peserta aksi jilid pertama.
Fadil
juga menjelaskan alasan mahasiswa mendesak Gubernur Kalimantan Barat mundur
dari jabatannya, evaluasi terhadap kebijakan pemerintah daerah, serta langkah
konkret yang diharapkan mahasiswa untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang
mereka suarakan.
Selain
itu, sikap BEM SI Kalbar mengenai dugaan kekerasan terhadap mahasiswa perlu
ditampilkan secara jelas. Mahasiswa meminta agar laporan atas peristiwa
tersebut ditindaklanjuti secara transparan dan profesional, serta mendesak
Kapolda Kalimantan Barat memberikan penjelasan terbuka mengenai proses
penanganan kasusnya.
Mahasiswa Minta Dugaan Kekerasan
Diusut Transparan
Di luar tuntutan mengenai
kebijakan pemerintah, perwakilan mahasiswa juga meminta agar kasus dugaan
kekerasan terhadap mahasiswa saat aksi jilid pertama ditindaklanjuti secara
transparan.
Mereka menyoroti dugaan tindakan
kekerasan yang disebut melibatkan sekelompok orang yang oleh mahasiswa dituding
sebagai gerombolan preman. Perwakilan mahasiswa mendesak aparat penegak hukum
mengusut peristiwa tersebut secara terbuka, profesional, dan tidak tebang
pilih.
Mahasiswa juga meminta Kapolda
Kalimantan Barat memberikan penjelasan secara terbuka mengenai penanganan
laporan dan perkembangan penyelidikan atas dugaan kekerasan tersebut.
Bagi mahasiswa, keterbukaan dalam
penanganan perkara menjadi penting untuk memastikan bahwa setiap warga negara
memperoleh perlindungan hukum, termasuk mereka yang menyampaikan aspirasi
melalui aksi unjuk rasa.
Mereka berharap proses penegakan
hukum tidak berhenti pada penerimaan laporan, tetapi dilanjutkan dengan
penyelidikan yang dapat dipertanggungjawabkan serta penyampaian informasi
perkembangan perkara kepada publik sesuai ketentuan hukum.
Aksi Berpotensi Berlanjut hingga
28 Oktober
Berdasarkan informasi pelaksanaan
aksi, mahasiswa menyatakan akan terus menggelar unjuk rasa apabila belum ada
keputusan atau kebijakan pemerintah provinsi yang menindaklanjuti tuntutan
mereka.
Aksi lanjutan diperkirakan
berlangsung secara berjilid-jilid pada 20–28 Oktober 2026, atau sampai
pemerintah provinsi mengeluarkan kebijakan yang dinilai mampu menjawab tuntutan
massa. (tim liputan).
