![]() |
| Dr. Bayu, M.Pd (Dosen Universitas Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas) |
KALBARNEWS.CO.ID (SAMBAS) - Kebakaran
hutan dan lahan (Karhutla) yang kembali terjadi di sejumlah wilayah Indonesia,
khususnya di Pulau Kalimantan dan Sumatra, bukan hanya persoalan lingkungan dan
kesehatan. Kondisi kabut asap yang semakin mengkhawatirkan juga telah
memberikan dampak serius terhadap keberlangsungan pendidikan dan proses
pembelajaran anak-anak.
Dalam beberapa hari terakhir,
sejumlah satuan pendidikan terpaksa menyesuaikan kegiatan belajar, mulai dari
pembatasan aktivitas di luar ruangan, penggunaan masker, hingga pelaksanaan
Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Data Kemendikdasmen menunjukkan ribuan satuan
pendidikan dan ratusan ribu murid telah terdampak kebijakan pembelajaran akibat
situasi Karhutla. (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Kondisi ini menjadi pengingat
bahwa Karhutla dapat mengganggu hak anak untuk memperoleh pendidikan secara
optimal. Ketika sekolah harus ditutup atau pembelajaran dialihkan ke rumah,
tidak semua peserta didik memiliki fasilitas dan akses yang sama. Keterbatasan
jaringan internet, perangkat pembelajaran, pendampingan orang tua, serta
kondisi lingkungan rumah menjadi tantangan tersendiri.
Lebih dari itu, kabut asap juga
berdampak terhadap kesehatan dan konsentrasi peserta didik. Anak-anak tidak
dapat belajar secara maksimal ketika harus menghadapi gangguan pernapasan, mata
perih, batuk, dan kondisi udara yang tidak sehat. Dalam situasi seperti ini,
keselamatan dan kesehatan peserta didik harus menjadi prioritas utama.
Pendidikan memang harus tetap
berjalan, tetapi tidak boleh dipaksakan dengan mengorbankan kesehatan warga
sekolah. Karena itu, diperlukan kebijakan pembelajaran yang adaptif dan
fleksibel sesuai kondisi kualitas udara di masing-masing daerah. Sekolah, pemerintah
daerah, orang tua, dan masyarakat harus membangun kerja sama agar hak belajar
anak tetap terpenuhi tanpa mengabaikan keselamatan mereka.
Kemendikdasmen sendiri
menegaskan tiga prinsip penting dalam menghadapi dampak Karhutla, yaitu
keselamatan warga sekolah sebagai prioritas, hak belajar murid tidak boleh
berhenti, serta pemulihan pendidikan harus direncanakan sejak awal. Pemerintah
juga menyiapkan protokol pembelajaran darurat, bantuan kesehatan, dan berbagai
bentuk dukungan bagi satuan pendidikan terdampak. (Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan)
Pada akhirnya, Karhutla harus
kita pahami bukan sekadar bencana musiman. Setiap asap yang menutup langit juga
berpotensi mengganggu ruang belajar anak-anak dan masa depan generasi bangsa.
Oleh karena itu, penanganan Karhutla harus dilakukan secara serius dan
berkelanjutan, karena menjaga lingkungan sesungguhnya juga berarti menjaga
kesehatan, pendidikan, dan masa depan anak-anak Indonesia.
Pendidikan tidak boleh berhenti
karena bencana, tetapi lebih penting lagi, jangan sampai anak-anak harus
menjadi korban dari bencana yang sebenarnya dapat dicegah bersama.
Penulis : Dr. Bayu, M.Pd (Dosen
Universitas Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas) Bidang Keahlian: Manajemen dan
Kebijakan Pendidikan (UNISSAS)
