Kabut Asap Memburuk, Klinik Pratama UNTAN Tingkatkan Kewaspadaan Gangguan Pernapasan

Editor: leoian790@gmail.com author photo


KALBARNEWS.CO.ID
PONTIANAK – Memburuknya kualitas udara dan meningkatnya paparan kabut asap di Kota Pontianak dan sekitarnya mulai berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Klinik Pratama Universitas Tanjungpura (UNTAN) mencatat adanya kecenderungan peningkatan kunjungan pasien dengan keluhan gangguan saluran pernapasan dalam kurun waktu Juli hingga Agustus 2026.

Kepala Klinik Pratama UNTAN, dr. Eka Ardiani Putri, M.M.Kes., M.H., mengatakan peningkatan keluhan terutama terlihat pada kasus yang mengarah pada Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA.

Menurutnya, anak-anak menjadi salah satu kelompok yang cukup banyak datang dengan keluhan seperti batuk, pilek, demam hingga gangguan pernapasan. Keluhan serupa juga ditemukan pada pasien dewasa.

ISPA memiliki berbagai faktor penyebab. Namun, paparan polusi udara dan partikulat halus atau PM2,5 dari kabut asap dapat memperberat iritasi serta gangguan pada saluran pernapasan, terutama pada kelompok rentan.

"Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit penyerta membutuhkan perlindungan ekstra dari dampak kabut asap,” ujar dr. Eka.

Sebagai langkah perlindungan, Klinik Pratama UNTAN tetap membuka pelayanan kesehatan bagi masyarakat, khususnya bagi mereka yang mengalami keluhan gangguan pernapasan. Selain pemeriksaan dan penanganan pasien, klinik juga terus memberikan edukasi mengenai pencegahan dampak kabut asap, baik secara langsung maupun melalui media sosial.

Dr. Eka mengimbau masyarakat menjadikan pencegahan sebagai prioritas. Warga diminta memantau kualitas udara sebelum beraktivitas, mengurangi kegiatan di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, serta menggunakan masker yang sesuai apabila harus keluar rumah.

Masyarakat juga diingatkan untuk menjaga kualitas udara di dalam rumah agar tidak tercemar asap dari luar.

Khusus bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat asma atau penyakit paru dan jantung, dr. Eka meminta agar paparan asap benar-benar dibatasi dan tidak memaksakan diri melakukan aktivitas di luar ruangan.

Apabila muncul gejala seperti sesak napas, napas cepat, batuk yang semakin berat, demam tinggi, nyeri dada, atau kondisi kesehatan yang memburuk, masyarakat diminta segera mendapatkan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Selain itu, masyarakat dianjurkan tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat, mengonsumsi makanan bergizi, mencukupi kebutuhan cairan, beristirahat dengan cukup, tidak merokok, serta memastikan ketersediaan obat rutin bagi pasien dengan penyakit kronis.

"Dalam kondisi seperti ini, pencegahan harus menjadi prioritas utama. Lindungi diri dan keluarga, terutama kelompok yang rentan terhadap dampak kabut asap,” pesan dr. Eka.

Share:
Komentar

Berita Terkini