Gambut Terbakar, Kebun Warga Jadi Korban: 40 Hektare Lahan Permata Jaya Terdampak Karhutla

Editor: Redaksi author photo
MPA Desa Permata Jaya Saat Padamkan Karhutla

KALBARNEWS.CO.ID (KUBU RAYA) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Permata Jaya, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, belum sepenuhnya berakhir.

 

Memasuki hari ke-35, masyarakat bersama Masyarakat Peduli Api (MPA) masih berjibaku mengendalikan kobaran api yang melanda kawasan tersebut. Di tengah dominasi lahan gambut, kebakaran tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga menghantam lahan pertanian dan perkebunan milik warga.

 

Desa Permata Jaya merupakan salah satu wilayah yang sebagian besar lahannya didominasi gambut. Diperkirakan sekitar 65 persen wilayah desa merupakan hamparan gambut yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.

 

Masyarakat setempat mengenal tanah gambut berwarna hitam tersebut dengan sebutan tanah sepo'. Dahulu, gambut dianggap bersahabat dengan kehidupan warga. Kanal-kanal yang mengalir di kawasan tersebut bahkan masih dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kebutuhan.

 

Namun kondisi itu kini berubah. Ketika musim kemarau dan gambut mulai mengering, lahan menjadi sangat rentan terhadap api. Kebakaran di lahan gambut juga memiliki karakter berbeda karena api dapat menjalar dan membakar lapisan gambut di bawah permukaan.

 

Kondisi tersebut kini menjadi kekhawatiran serius bagi masyarakat Permata Jaya, terutama petani dan pekebun sawit maupun karet.

 

Selama kurang lebih 35 hari karhutla melanda wilayah tersebut, sejumlah lahan dan kebun warga menjadi korban. Berdasarkan pengecekan lapangan MPA, sekitar 40 hektare lahan, termasuk kebun masyarakat, terdampak kebakaran.

 

Kerusakan yang dialami warga juga beragam. Ada kebun yang masih memungkinkan untuk dipulihkan dan kembali dirawat dengan waktu pemulihan sekitar tiga hingga lima bulan. Namun, sebagian lainnya mengalami kerusakan parah sehingga tidak memungkinkan untuk dipertahankan dan harus dilakukan penanaman ulang.

 

MPA Bertahan dengan Peralatan Terbatas

 

Penanganan karhutla di Permata Jaya memiliki dinamika tersendiri. Di tengah keterbatasan peralatan dan anggaran, MPA tetap menjadi salah satu kekuatan utama dalam mengendalikan kobaran api.

 

Pada awal karhutla sekitar pekan ketiga Juli 2026, MPA Permata Jaya hanya memiliki empat unit mesin pemadam yang siap digunakan, dengan jumlah selang yang juga terbatas.

 

Dengan kondisi tersebut, petugas harus mengatur strategi untuk menangani sejumlah titik secara bergantian. Beberapa titik berhasil dikendalikan, meski terdapat pula lokasi yang terlambat ditangani sehingga api sempat meluas dan membakar lahan warga.

 

Dukungan peralatan kemudian datang secara bertahap. Dua unit mesin dari CTB diterima pada awal pekan keempat Juli. Selanjutnya, pada 14 Agustus 2026, PT GAN memberikan satu unit mesin lengkap dengan selang.

 

Meski mendapat tambahan peralatan, kebutuhan penanganan di lapangan masih cukup besar.

 

Dari sekitar 20 kampung/parit yang berada di wilayah Permata Jaya, hanya enam kampung yang disebut berhasil selamat dari kobaran karhutla.

 

Persoalan semakin berat ketika memasuki awal Agustus. Sumber air mulai mengalami kekeringan sehingga proses pemadaman berjalan lebih lambat.

 

Kondisi ini membuat petugas harus bekerja lebih keras untuk mencari sumber air yang masih dapat digunakan untuk menyuplai mesin pemadam.

 

Kebutuhan MPA Terus Bertambah

 

Selama karhutla berlangsung lebih dari satu bulan, kebutuhan operasional MPA juga terus meningkat.

 

Bukan hanya mesin pemadam dan selang yang diperlukan. Para petugas juga membutuhkan BBM, konsumsi, perbaikan unit mesin, tambahan peralatan hingga biaya operasional untuk mendukung pergerakan di lapangan.

 

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Pemerintah Desa Permata Jaya.

Kepala Desa Permata Jaya, Sy. Solehudin Assegaf, mengatakan pemerintah desa terus berupaya mencari solusi agar kebutuhan MPA tetap dapat dipenuhi.

 

“Kami bersama MPA dan masyarakat sudah berupaya semaksimal mungkin mengendalikan karhutla. Tetapi kondisi di lapangan memang tidak mudah. Hampir 35 hari kami berjibaku, sementara kebutuhan terus berjalan, mulai dari BBM, selang, mesin, perbaikan peralatan hingga konsumsi anggota yang berada di lapangan,” ujar Solehudin saat ditemui pada hari Jumat (28/8/2026).

 

Menurutnya, kemampuan anggaran desa memiliki keterbatasan. Terlebih lagi, penanganan karhutla yang berlangsung hingga lebih dari satu bulan membuat kebutuhan operasional semakin besar.

 

“Kami bukan tidak mau bergerak, justru kami terus mencari cara agar MPA tetap bisa bekerja. Tetapi kalau karhutla berlangsung selama ini, tentu kemampuan desa juga ada batasnya. Karena itu kami sangat berharap dukungan dari pemerintah dan para pihak yang memiliki kemampuan serta peralatan untuk bersama-sama menangani karhutla ini,” katanya.

 

Pemilik Lahan Diminta Ikut Bertanggung Jawab

 

Pemerintah Desa Permata Jaya juga mendorong keterlibatan seluruh unsur masyarakat dalam penanganan karhutla.

 

Tidak hanya RT dan RW, pemilik lahan juga diminta untuk hadir dan ikut membantu proses pemadaman apabila kebakaran terjadi di sekitar lahan mereka.

 

Solehudin menegaskan, persoalan karhutla tidak dapat hanya dibebankan kepada MPA maupun pemerintah desa.

 

“Kami mengajak semua pihak, terutama pemilik lahan, untuk tidak tinggal diam. Ini bukan hanya persoalan pemerintah desa atau MPA, tetapi persoalan kita bersama. Kalau ada lahan yang terbakar, dampaknya kembali kepada masyarakat sendiri,” tegasnya.

 

Menurutnya, gotong royong masyarakat menjadi kekuatan penting dalam menghadapi karhutla, mengingat luasnya wilayah yang harus diawasi dan terbatasnya kemampuan peralatan yang tersedia.

 

Menanti Dukungan BPBD dan Manggala Agni

 

Di tengah perjuangan MPA dan masyarakat yang telah berlangsung selama 35 hari, Pemerintah Desa Permata Jaya berharap dukungan penanganan dari pemerintah dan instansi terkait segera datang.

 

BPBD, Manggala Agni dan para pihak lainnya dinilai memiliki peran penting untuk memperkuat penanganan karhutla, khususnya dalam kondisi ketika sumber daya MPA mulai terbatas.

 

Solehudin mengatakan Permata Jaya masih membutuhkan dukungan konkret agar api yang tersisa dapat segera dikendalikan dan tidak kembali meluas.

 

“Persoalannya bukan hanya api, tetapi sumber air juga mulai sulit. Ketika air terbatas, kerja MPA menjadi semakin berat. Kami membutuhkan tambahan mesin, selang, BBM dan dukungan operasional agar titik-titik yang masih rawan bisa segera ditangani,” ungkapnya.

 

Ia juga mengingatkan dampak karhutla tidak hanya menyangkut kerusakan lahan dan kebun masyarakat. Asap yang semakin menebal mulai menjadi ancaman bagi kesehatan warga.

 

“Karhutla masih berlangsung dan asap semakin terasa. Kami khawatir terhadap kesehatan masyarakat dan keselamatan lahan warga. Kekuatan kami sekarang sudah sangat terbatas. Kami berharap dukungan dari BPBD, Manggala Agni dan para pihak lainnya segera hadir di Permata Jaya. Dengan dukungan bersama, kami yakin karhutla ini bisa kita tuntaskan,” pungkasnya.

 

Selama 35 hari, MPA Permata Jaya telah berusaha mempertahankan wilayahnya dengan segala keterbatasan. Namun, perjuangan tersebut membutuhkan dukungan yang lebih besar.

 

Bagi masyarakat Permata Jaya, karhutla bukan sekadar persoalan api yang harus dipadamkan. Di balik lahan gambut yang terbakar terdapat kebun, sumber penghasilan dan kehidupan warga yang dipertaruhkan.

 

Kini, ketika asap semakin menebal dan kekuatan di lapangan semakin terbatas, harapan masyarakat hanya satu: dukungan penanganan karhutla segera datang sebelum api kembali mengambil lebih banyak lahan dan kebun warga. (tim liputan).

 

Editor : Heri

Share:
Komentar

Berita Terkini