![]() |
| MotoGP Angkat Bahasa Daerah Indonesia, 10 Istilah Ini Jadi Sorotan |
KALBARNEWS.CO.ID (JAKARTA) - Akun
Instagram resmi MotoGP mencuri perhatian warganet Indonesia setelah mengunggah
konten yang menggunakan beragam istilah khas dari bahasa daerah untuk merayakan
Bulan Bahasa sekaligus mengenang sejumlah momen menarik di Sirkuit Mandalika.
"Bulan Bahasa, nostalgia
momen epic Mandalika pakai bahasa kita!" tulis MotoGP di akun Instagram
resminya yang diakses Minggu (18/10/2026).
Melalui unggahan tersebut, MotoGP
menampilkan sejumlah foto yang dipadukan dengan istilah populer di berbagai
wilayah Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Menyala Lae, Gaspol, Laju Bana,
Ngepot, Nyusruk, Turu, Hareudang, Cokot, Jibreg, dan Juaro.
Pilihan kata tersebut membuat
konten MotoGP terasa lebih dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia.
Penggunaan istilah lokal itu menjadi cara unik untuk menghidupkan kembali
kenangan tentang balapan di Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Alih-alih hanya menampilkan
istilah teknis balap atau ungkapan berbahasa Inggris, akun tersebut justru
memanfaatkan kosakata yang akrab digunakan masyarakat di berbagai daerah.
Strategi komunikasi seperti ini
juga membuat konten olahraga terasa lebih relevan bagi penggemar di negara yang
memiliki keragaman bahasa dan budaya. Istilah yang digunakan bukan sekadar
pelengkap foto, tetapi juga menghadirkan unsur humor yang dekat dengan
kebiasaan warganet Indonesia.
Respons pengguna media sosial pun
beragam. Sejumlah warganet mengapresiasi penggunaan bahasa lokal oleh akun
resmi kejuaraan balap motor dunia tersebut.
Namun, tidak sedikit pula yang
justru penasaran dengan sosok pengelola akun atau admin yang dianggap memahami
gaya komunikasi khas masyarakat Indonesia.
“Ini admin lokal MotoGP,” tulis
seorang pengguna media sosial dalam komentarnya.
Komentar lain menyebut admin akun
tersebut sudah semakin akrab dengan budaya Indonesia. Ada pula warganet yang
menilai MotoGP memiliki cara tersendiri untuk menarik perhatian penggemarnya di
Tanah Air.
“Memang paling bisa MotoGP ambil
hati orang Indonesia,” tulis pengguna lainnya.
Reaksi tersebut memperlihatkan
bahwa konten olahraga tidak selalu harus berisi informasi seputar hasil
balapan, klasemen pembalap, atau perkembangan tim.
Konten ringan yang memanfaatkan
bahasa dan budaya lokal juga bisa menjadi sarana untuk membangun interaksi
dengan penggemar.
Indonesia sendiri memiliki basis
penggemar MotoGP yang besar. Kehadiran Sirkuit Mandalika sebagai tuan rumah
balapan dunia turut memperkuat hubungan antara kompetisi tersebut dan
masyarakat Indonesia.
Melalui pendekatan yang lebih
santai, MotoGP menghadirkan sisi lain dari dunia balap yang biasanya identik
dengan persaingan ketat di lintasan.
Kali ini, perhatian justru
tertuju pada permainan kata dan istilah daerah yang digunakan untuk
menggambarkan momen-momen balapan.
Menariknya, tidak semua istilah
yang ditampilkan tentu dipahami oleh setiap orang Indonesia.
Perbedaan bahasa daerah membuat sejumlah kata terasa akrab bagi sebagian masyarakat, tetapi terdengar asing bagi orang dari wilayah lain.
