| Prodi Manajemen Untan Perkuat Wirausaha Pemuda Perbatasan |
Mengusung tema "Pemberdayaan Organisasi Pemuda Perbatasan melalui Program Inkubasi Bisnis Berbasis Potensi Lokal dan Transformasi Digital di Kawasan PLBN Entikong", kegiatan ini menjadi upaya nyata untuk memperkuat kapasitas kewirausahaan generasi muda di wilayah perbatasan.
Koordinator Program Studi Manajemen FEB UNTAN, Bintoro Bagus Purmono, mengatakan bahwa kawasan perbatasan memiliki potensi ekonomi yang besar sehingga perlu didukung melalui penguatan kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan program pengabdian yang tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga mampu menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
"Melalui KKM-PKM Internasional ini, kami ingin mendorong lahirnya wirausaha-wirausaha muda yang mampu mengembangkan potensi lokal secara inovatif dan memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana meningkatkan daya saing. Perguruan tinggi harus hadir sebagai mitra pembangunan masyarakat, terutama di kawasan perbatasan yang memiliki potensi strategis," ujar Bintoro.
Kegiatan yang melibatkan Organisasi Pemuda Perbatasan Desa Entikong ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Desa Entikong. Kepala Desa Entikong, Joko, bersama jajaran pemerintah desa hadir dalam kegiatan sebagai bentuk komitmen untuk memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat.
Menurut Joko, penguatan kapasitas pemuda merupakan investasi penting bagi pembangunan desa. Ia berharap pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh peserta dapat menjadi bekal dalam mengembangkan usaha berbasis potensi lokal.
"Kami berharap para pemuda Desa Entikong semakin produktif, berani berwirausaha, dan mampu mengembangkan potensi lokal yang dimiliki desa menjadi usaha yang bernilai ekonomi. Semoga kerja sama seperti ini dapat terus berlanjut sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat," kata Joko.
Ketua Panitia, Efa, menjelaskan bahwa tema yang diangkat dipilih karena selaras dengan kebutuhan masyarakat perbatasan yang tidak hanya memerlukan peningkatan kemampuan berwirausaha, tetapi juga pendampingan dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai bagian dari pengembangan usaha.
Ia menuturkan, kegiatan dirancang agar peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, melainkan juga mampu menyusun gagasan bisnis yang dapat dikembangkan setelah program berakhir. Pendekatan inkubasi bisnis dipilih sebagai strategi untuk membangun pola pikir kewirausahaan sekaligus memperkuat kemampuan peserta dalam melihat peluang usaha yang berangkat dari potensi lokal.
Sebagai bagian dari program, peserta memperoleh materi dari Ana Fitriana, dosen Program Studi Manajemen FEB UNTAN, mengenai penguatan entrepreneurial mindset dan identifikasi potensi ekonomi lokal sebagai dasar penyusunan usaha yang berkelanjutan.
Selanjutnya, Muhammad Naufal Ginting, mahasiswa Program Studi Manajemen FEB UNTAN, memberikan pendampingan mengenai transformasi digital, pemasaran digital, serta workshop penyusunan ide bisnis yang aplikatif.
Melalui rangkaian pendampingan tersebut, peserta berhasil menyusun rancangan ide usaha berbasis potensi lokal, memahami tahapan penyusunan model bisnis, serta memperoleh wawasan mengenai pemanfaatan platform digital untuk memperluas pemasaran produk.
Luaran tersebut diharapkan menjadi langkah awal dalam menciptakan wirausaha muda yang mampu meningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus memperkuat perekonomian kawasan perbatasan.
Selain memberikan manfaat bagi peserta, kegiatan ini juga menghasilkan komitmen awal antara Program Studi Manajemen FEB UNTAN dan Pemerintah Desa Entikong untuk melanjutkan kerja sama dalam bentuk pendampingan kewirausahaan masyarakat. Sinergi tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem bisnis yang berkelanjutan serta mendorong lahirnya lebih banyak pelaku usaha muda yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Melalui KKM-PKM Internasional ini, Program Studi Manajemen FEB UNTAN menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan berkualitas, tetapi juga berkontribusi dalam pemberdayaan masyarakat. Ke depan, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan organisasi kepemudaan diharapkan terus diperkuat sehingga potensi lokal di kawasan perbatasan dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (tim Liputan)
Editor : Aan