Pancasila Pemersatu Bangsa Bupati Fransiskus Diaan Pimpin Upacara Harlah Pancasila di Putussibau
KALBARNEWS.CO.ID (KAPUAS HULU) - Bendera Merah Putih berkibar khidmat di halaman kantor Bupati Kapuas Hulu, Senin 1 Juni 2026. Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu menggelar upacara peringatan Hari Lahir Pancasila dengan inspektur upacara Bupati Kapuas Hulu Fransiskus Diaan.
Upacara ini menjadi momentum refleksi nasional. Tema yang diangkat tahun ini, "Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia", mengingatkan seluruh elemen bangsa bahwa ideologi negara bukan hanya simbol, tapi harus hidup dalam tindakan nyata.
Upacara dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kapuas Hulu, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, serta pimpinan BUMN dan BUMD di wilayah Kota Putussibau. Kehadiran lintas elemen ini menunjukkan bahwa semangat Pancasila memang milik semua golongan.
Suasana khidmat terasa sejak pengibaran bendera hingga pembacaan Pancasila dan UUD 1945. Peserta upacara dari ASN, TNI, Polri, pelajar, hingga masyarakat umum mengikuti rangkaian acara dengan tertib.
Dalam amanatnya, Bupati Fransiskus Diaan membacakan pidato tertulis Kepala Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi. Pesan utamanya tegas: Pancasila tidak boleh berhenti sebagai teks sejarah.
"Pancasila bukan sekadar teks sejarah, tetapi harus menjadi living ideology (ideologi yang hidup) dalam setiap kebijakan publik," tegas Bupati membacakan amanat tersebut.
Menurut amanat BPIP, Pancasila telah terbukti menjadi bintang penuntun yang kokoh bagi bangsa Indonesia. Nilai-nilainya menjadi pegangan menghadapi berbagai tantangan global, disrupsi teknologi, hingga dinamika sosial yang cepat berubah.
Sebagai bangsa besar, Indonesia juga memikul tanggung jawab konstitusional. Yaitu turut menciptakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Itu sebabnya tema "Fondasi Perdamaian Dunia" diangkat tahun ini.
Bupati menyoroti peran penting pemimpin, baik di tingkat nasional maupun daerah. Tugas utama mereka adalah menjamin hak-hak masyarakat kecil agar tidak terpinggirkan oleh pembangunan.
Lebih dari itu, pemimpin juga harus bersikap tegas melawan segala bentuk intoleransi dan radikalisme. Sebab, paham-paham yang memecah belah hanya akan merusak harmonisasi kebangsaan yang sudah dibangun puluhan tahun.
"Tanpa sikap tegas dari para pemimpin, maka nilai kebhinekaan yang menjadi napas Pancasila akan mudah terkikis," ujarnya.
Pesan khusus juga disampaikan untuk generasi muda. Mereka disebut sebagai penjaga masa depan bangsa. Namun menjaga masa depan tidak cukup dengan menyimpan Pancasila di kepala sebagai wawasan semata.
"Generasi muda, sebagai penjaga masa depan, diimbau agar tidak hanya menyimpan nilai Pancasila sebagai wawasan, tetapi mengamalkannya dalam kehidupan nyata," lanjut Bupati.
Nilai gotong royong, toleransi, musyawarah, dan keadilan sosial harus terlihat dalam perilaku sehari-hari. Mulai dari menghargai perbedaan di sekolah, aktif menjaga lingkungan, hingga menolak ujaran kebencian di media sosial.
Mengakhiri amanat, seluruh elemen bangsa diajak memperteguh komitmen kebangsaan. Pancasila ditegaskan akan terus menjadi kekuatan utama yang menjaga kedaulatan dan martabat Republik Indonesia di mata dunia.
"Selama nilai-nilai luhur Pancasila terus dijaga dalam setiap denyut nadi anak bangsa, maka Indonesia akan tetap berdiri kokoh, berdaulat, dan bermartabat," pungkas Bupati.
Upacara ditutup dengan pembacaan doa untuk keselamatan bangsa dan daerah Dari Putussibau, semangat 1 Juni kembali dikumandangkan menjaga Pancasila berarti menjaga rumah bersama bernama Indonesia.(Dulhadi)
Editor : Aan