Kisah Ahli Hukum Kalbar Melaksanakan Ibadah Haji

Editor: Redaksi author photo

KALBARNEWS.CO.ID (PONTIANAK) - Setiap jamaah haji pasti punya kisahnya sendiri. Termasuk juga dengan Dr Hermasyah SH MH, akademisi, ahli hukum Kalimantan Barat. Berikut ini kisah beliau saat melaksanakan rukun Islam itu untuk pertama kalinya. 


Sebagai jamaah yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Suci, beliau datang membawa doa, harapan, dan sedikit kekhawatiran yang dititipkan oleh berbagai cerita dari kanan-kiri.


Namun Allah ternyata menyiapkan cerita yang berbeda. Semua bermula ketika Dr. Hermansyah kembali bertemu dengan H Ahmad Kholil, pemilik KBIHU Arafah. Ternyata pernah menjadi mahasiswa beliau sendiri di Program Magister. Dari pertemuan itu mulai terlihat sebuah keseriusan yang tidak biasa.


Manasik yang diberikan bukan sekadar formalitas untuk menggugurkan kewajiban administrasi. Materinya rinci, sistematis, dan dibawakan oleh para ahli yang memahami ibadah haji secara mendalam. Setiap tahapan dijelaskan secara detail sehingga mudah dipahami oleh seluruh jamaah.


Bayangkan seseorang yang belum pernah berhaji. Setelah mengikuti manasik tersebut, ia seperti memperoleh peta lengkap sebelum memasuki kota raksasa bernama Makkah.


Di tengah zaman ketika sebagian orang menganggap manasik cukup dilakukan ala kadarnya sambil berharap jamaah bisa "survive" sendiri di Tanah Suci, pendekatan KBIHU Arafah terasa seperti mata air di tengah gurun pasir.


Sesampainya di Tanah Suci, Dr. Hermansyah menemukan sesuatu yang tidak banyak muncul dalam cerita-cerita viral: ketenangan. Program berjalan sesuai rencana. Umrah wajib terlaksana dengan tertib. Hotel terkelola dengan baik. Koordinasi dengan tim kesehatan berlangsung rapi dan sigap. Semua terasa teratur.


Di tengah jutaan manusia yang berkumpul dari berbagai penjuru dunia, ketertiban seperti ini merupakan kemewahan yang luar biasa.


Kemudian tibalah babak yang sering menjadi legenda tahunan jamaah haji, makanan. Anehnya, tidak ada drama.


Tidak ada acara menunggu berjam-jam sambil menebak-nebak nasi akan datang sebelum Magrib atau sebelum musim haji berikutnya. Tidak ada makanan yang terlambat. Semua tersaji sesuai jadwal. Para petugas bekerja dengan tanggung jawab yang membuat banyak jamaah merasa tenang dan nyaman.


Mungkin terdengar hiperbolis. Tetapi itulah yang dirasakan langsung oleh seorang doktor hukum yang tidak memiliki alasan untuk melebih-lebihkan pengalaman tersebut.


Yang paling membekas justru bukan hotel, bukan makanan, bahkan bukan fasilitas. Yang paling membekas adalah suasana kebersamaan dan pembinaan rohani yang dirasakan sepanjang perjalanan.


Muhammad Sulaiman dan seluruh tim pembimbing tidak hanya mengajarkan tata cara menjalankan rukun dan wajib haji. Mereka juga membantu jamaah memahami makna di balik setiap langkah, setiap doa, dan setiap perjalanan yang dilakukan.


Di sinilah Dr. Hermansyah menyadari, haji bukan sekadar perjalanan geografis dari Indonesia menuju Arab Saudi. Haji adalah perjalanan batin.


Di hadapan Ka'bah, gelar akademik, jabatan, dan status sosial menjadi tidak penting. Semua manusia berdiri sama sebagai hamba Allah yang sedang memenuhi panggilan-Nya. Mungkin itulah sebabnya jutaan orang rela menunggu bertahun-tahun demi mendapatkan kesempatan berhaji. Karena ada sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang, tidak bisa diajarkan sepenuhnya oleh buku, dan tidak bisa dijelaskan secara utuh oleh kata-kata.


Ia hanya bisa dirasakan. Ketika diminta memberikan penilaian terhadap pelayanan yang diterimanya, Dr. Hermansyah hanya mengatakan satu kalimat sederhana, "Saya pikir ini sukses. Selamat untuk KBIHU Arafah."


Pengalaman ahli hukum Kalbar ini mengajarkan satu hal penting. Jangan biarkan cerita-cerita negatif membuat kita takut memenuhi panggilan Allah. Sebab di balik berbagai kisah yang beredar, masih ada penyelenggara yang bekerja secara profesional, amanah, dan sungguh-sungguh melayani jamaah.


Haji bukan perjalanan yang harus ditakuti. Haji adalah perjalanan yang harus dirindukan. Jika saat membaca kisah ini hati Anda mulai bergetar, mungkin itu bukan kebetulan. Mungkin itu adalah panggilan yang sedang mengetuk pelan dari arah Baitullah.


Semoga suatu hari nanti kita semua mendapat kesempatan berdiri di depan Ka'bah, mengangkat tangan dalam doa, lalu pulang dengan hati yang jauh lebih bersih daripada saat berangkat. InsyaAllah. 


Penulis : Rosadi Jamani (Ketua Satupena Kalbar)

Share:
Komentar

Berita Terkini