KALBARNEWS.CO.ID (MEMPAWAH) - Pesisir bukan hanya tentang laut. Di sana, mangrove tumbuh sebagai benteng alami yang melindungi daratan dari abrasi, menjaga kehidupan pesisir, sekaligus menyimpan harapan bagi generasi mendatang.
Tanam Mangrove, Rawat Masa Depan
Semangat itu menjadi dasar kolaborasi antara Kitabisa.org, Harapan Alam (HARPA), Ganavira, Crustea, komunitas Interraction, dan Gemawan dalam kegiatan penanaman mangrove bertajuk “Dari Hati Turun ke Alam – Bersama Tanam Mangrove”.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 28 Februari 2026 di Desa Bakau Kecil, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, dengan melibatkan penerima beasiswa, komunitas pecinta lingkungan, serta masyarakat setempat.
Mangrove bukan sekadar vegetasi pesisir. Ia adalah pelindung alami dari gelombang dan badai, habitat berbagai biota laut, sekaligus penyangga ekonomi masyarakat.
“Dalam konteks perubahan iklim dan meningkatnya risiko abrasi, keberadaan mangrove menjadi semakin krusial,” ujar Lani Ardiansya, pegiat Gemawan.
Selain menanam bibit mangrove, peserta juga mendapatkan pembelajaran langsung mengenai praktik silvofishery—model budidaya perikanan yang terintegrasi dengan pelestarian mangrove. Pendekatan ini menjadi contoh nyata bahwa konservasi lingkungan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kegiatan ini tidak berhenti pada aksi simbolik. “Dari Hati Turun ke Alam” menjadi ruang edukasi sekaligus refleksi bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil yang dilakukan bersama.
Ucup sapaan Akrabnya, menyampaikan bahwa kolaborasi lintas latar belakang ini membuktikan kepedulian terhadap lingkungan dapat tumbuh dari siapa saja dan menjadi gerakan berdampak ketika disatukan.
Senada dengan itu, Muti dari Komunitas Lingkungan Kitabisa–Interraction berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran komunitas terhadap isu-isu lingkungan. Ia menekankan pentingnya anggota komunitas memahami tujuan setiap program, lalu menyebarkan pengetahuan dan advokasi di lingkungannya masing-masing.
“Harapannya teman-teman komunitas tidak hanya ikut menanam, tapi juga menjadi penyambung informasi dan penggerak kesadaran di ruang mereka sendiri,” ujarnya.
Ke depan, komunitas di Kalimantan Barat—khususnya Pontianak—diharapkan dapat menginisiasi kegiatan lanjutan secara mandiri, baik terkait mangrove maupun isu lingkungan lainnya.
Tantowi Gilang dari Harapan Alam–Kitabisa.org menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari sinergi antara program beasiswa, pemberdayaan, dan pelestarian lingkungan.
“Kegiatan lanjutan pasti ada. Kami masih memiliki banyak pekerjaan rumah, terutama dalam penguatan pemberdayaan masyarakat dan pengembangan komunitas di Kalimantan Barat. Ke depan, akan ada diskusi kelompok terarah (FGD) serta kegiatan lain untuk memperkuat gerakan ini,” jelasnya.
Ia juga berharap kolaborasi lintas pemangku kepentingan—mulai dari relawan, lembaga lingkungan, hingga penerima beasiswa dan keluarga mereka—dapat memperkuat pendidikan, kesejahteraan, serta melahirkan program-program baru yang relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Melalui kegiatan ini, para kolaborator mengajak masyarakat luas untuk turut serta menjaga pesisir. Karena pesisir bukan hanya tentang laut—ia adalah tentang kehidupan, keberlanjutan, dan masa depan yang dirawat bersama. (Tim Liputan)
Editor : Aan