IKLAN









“War” BBM di Ujung Ramadan 1447 H, Ujian Kesabaran di Detik-Detik Terakhir

Editor: Redaksi author photo
 “War” BBM di Ujung Ramadan 1447 H, Ujian Kesabaran di Detik-Detik Terakhir

KALBARNEWS.CO.ID (PONTIANAK) - Akhir Ramadan seharusnya menjadi fase paling tenang dalam perjalanan spiritual umat Muslim. Di sepuluh hari terakhir, orang berlomba-lomba mendekatkan diri, memperbanyak ibadah, mengejar malam Lailatul Qadar. Namun realitas di lapangan berkata lain—justru di momen yang sakral ini, masyarakat dihadapkan pada fenomena yang cukup menguras energi: “War” BBM.

 

Istilah “War” bukan tanpa alasan. Antrean panjang, kepanikan, hingga saling berebut akses terhadap bahan bakar menjadi pemandangan yang berulang. Di beberapa daerah, kondisi ini bahkan memicu ketegangan sosial. BBM yang seharusnya menjadi kebutuhan dasar penunjang mobilitas, berubah menjadi komoditas langka yang diperebutkan.

 

Situasi ini tentu menghadirkan ironi. Di satu sisi, Ramadan mengajarkan kesabaran, pengendalian diri, dan empati. Di sisi lain, kondisi kelangkaan justru memancing emosi, mempercepat amarah, dan memicu kepentingan pribadi. Nilai-nilai yang dibangun selama hampir satu bulan seakan diuji secara nyata di SPBU dan jalur distribusi.

 

Lebih jauh, fenomena ini bukan sekadar soal ketersediaan energi. Ini menyentuh persoalan tata kelola distribusi, kesiapan menghadapi lonjakan kebutuhan menjelang Idul Fitri, hingga potensi praktik-praktik tidak sehat seperti penimbunan. Ketika sistem tidak mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara adil dan merata, maka yang muncul adalah kompetisi yang tidak sehat di tingkat akar rumput.

 

Masyarakat kecil menjadi pihak yang paling terdampak. Para nelayan, sopir angkutan, hingga pengguna transportasi umum harus menanggung beban berlipat. Ongkos naik, aktivitas terganggu, bahkan penghasilan harian ikut tergerus. Dalam kondisi seperti ini, Ramadan yang seharusnya menjadi bulan penuh keberkahan justru terasa berat bagi sebagian orang.

 

Namun di balik itu semua, ada pelajaran penting. “War” BBM di akhir Ramadan menjadi cermin bahwa ketahanan energi bukan hanya isu teknis, tetapi juga sosial dan moral. Ini tentang bagaimana negara hadir memastikan distribusi yang adil, dan bagaimana masyarakat tetap menjaga etika di tengah keterbatasan.

 

Ramadan hampir usai, tetapi ujian belum tentu selesai. Justru di titik inilah esensi puasa diuji: mampukah kita tetap tenang saat situasi tidak ideal? Mampukah kita menahan diri ketika kebutuhan mendesak?

 

Jika jawabannya iya, maka “War” BBM ini bukan sekadar cerita krisis, melainkan juga ruang refleksi—bahwa ibadah tidak hanya di masjid, tetapi juga di antrean panjang, di tengah panas, dan dalam keputusan-keputusan kecil untuk tetap bersabar dan tidak egois.

 

Akhirnya, Ramadan mengajarkan bahwa kemenangan bukan hanya soal Idul Fitri, tetapi tentang bagaimana kita melewati ujian—termasuk ujian kelangkaan—dengan tetap menjaga nilai kemanusiaan. (redaksi).

Share:
Komentar

Berita Terkini