KALBARNEWS.CO.ID PONTIANAK – Universitas Tanjungpura (UNTAN) mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kalimantan Barat untuk memanfaatkan data statistik, teknologi digital, dan strategi pemasaran sebagai langkah meningkatkan daya saing usaha.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Seminar Nasional Data Berdampak 2026 bertajuk “Statistik Berkualitas, UMKM Naik Kelas: Sinergi Data, Digitalisasi, dan Strategi Marketing untuk Membangun Usaha yang Adaptif, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan” yang digelar di Gedung Rektorat UNTAN, senin (19/10/26).
Kegiatan ini dirangkaikan dengan sosialisasi Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) dan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW). Seminar tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perguruan tinggi, Badan Pusat Statistik (BPS) RI, Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat, hingga Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Kalimantan Barat.
Wakil Rektor IV UNTAN Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi, Prof. Dr. rer. nat. Ir. R. M. Rustamaji, M.T., IPU, yang membuka kegiatan tersebut, menegaskan pentingnya kolaborasi dalam memperkuat sektor UMKM melalui pemanfaatan data dan keterlibatan sivitas akademika.
Menurutnya, UMKM merupakan salah satu pilar penting perekonomian nasional. Namun, untuk berkembang dan naik kelas, pelaku usaha tidak cukup hanya mengandalkan modal dan pengalaman. Kemampuan membaca data, memanfaatkan teknologi digital, serta menerapkan strategi pemasaran yang tepat juga menjadi faktor penting.
“UMKM merupakan pilar perekonomian nasional yang sudah terbukti. Namun, untuk berkembang dan naik kelas, UMKM tidak cukup hanya mengandalkan modal dan pengalaman. Perlu kemampuan memanfaatkan data, teknologi digital, dan strategi pemasaran yang tepat,” kata Rustamaji.
Ia menambahkan, ketiga aspek tersebut perlu didukung sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga statistik, dunia usaha, dan pelaku UMKM agar pengembangan usaha dapat berjalan lebih terarah dan berkelanjutan.
Sebagai bentuk kontribusi nyata, UNTAN juga melibatkan 1.000 mahasiswa dengan pendampingan dosen untuk membantu pemberdayaan UMKM di lapangan. Pendampingan tersebut dirancang melalui tiga tahapan, yakni persiapan sebelum kegiatan, pelaksanaan pendampingan, serta evaluasi setelah pendampingan. Pendekatan ini diharapkan dapat memastikan program berjalan efektif dan memberikan dampak yang terukur bagi perkembangan usaha masyarakat.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS RI, Dr. Ateng Hartono, S.E., M.Si., memaparkan perkembangan ekonomi Kalimantan Barat sekaligus peluang yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat sektor usaha.
Ia menyampaikan, berdasarkan data pertumbuhan ekonomi hingga Semester I 2026, Kalimantan Barat mencatat pertumbuhan sebesar 5,87 persen secara kumulatif atau cumulative-to-cumulative (c-to-c). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,45 persen.
“Kalau kita cermati pertumbuhan ekonomi sampai dengan Semester I 2026, Kalbar tumbuh 5,87 persen secara c-to-c, lebih tinggi dibandingkan nasional sebesar 5,45 persen maupun provinsi lain di Kalimantan. Faktor utama pendorongnya adalah sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh hingga 21 persen,” ujar Ateng.
Meski menunjukkan pertumbuhan yang positif, ia mengingatkan pentingnya memperhatikan sektor-sektor yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat dan aktivitas UMKM.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tercatat tumbuh sebesar 3,52 persen. Sementara itu, industri pengolahan tumbuh 6,1 persen pada Semester I 2026, didorong antara lain oleh hilirisasi bauksit menjadi alumina.
Menurut Ateng, penguatan hilirisasi perlu diperluas agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat. Pengembangan industri pengolahan, termasuk produk UMKM yang memiliki nilai tambah, menjadi salah satu peluang untuk memperkuat perekonomian daerah.
Dengan dukungan data statistik yang berkualitas, pelaku usaha diharapkan dapat mengenali peluang pasar, memahami kebutuhan konsumen, dan menentukan langkah pengembangan usaha secara lebih tepat.
Sementara itu, Ketua Panitia Seminar Nasional Data Berdampak 2026, Prof. Dr. Rafjinal, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dilatarbelakangi pentingnya data dalam pengambilan keputusan bisnis maupun penyusunan kebijakan pembangunan.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi UMKM semakin beragam. Pelaku usaha tidak hanya dituntut menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga harus mampu membaca perubahan kebutuhan pasar, memanfaatkan teknologi, serta menyusun strategi pemasaran yang sesuai.
“Tantangan yang dihadapi UMKM saat ini semakin beragam. Tidak cukup hanya memiliki produk yang baik, pelaku usaha juga perlu memahami kebutuhan pasar, memanfaatkan teknologi, dan menentukan strategi pemasaran yang tepat,” ungkap Rafjinal.
Ia berharap seminar tersebut dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara perguruan tinggi, pemerintah, dan pelaku usaha, sekaligus mendorong pemanfaatan data sebagai dasar pengembangan bisnis.
Melalui Seminar Nasional Data Berdampak 2026, UNTAN berupaya memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat. Sinergi data statistik yang akurat, digitalisasi, strategi pemasaran, serta pendampingan mahasiswa diharapkan dapat membantu UMKM Kalimantan Barat menjadi lebih adaptif, kompetitif, dan berkelanjutan.
Langkah ini sekaligus menjadi upaya mendorong pelaku UMKM agar tidak hanya bertahan di tengah perubahan pasar, tetapi juga mampu mengembangkan usaha, meningkatkan nilai tambah produk, dan memperluas jangkauan pemasaran.