
Pulau Penebang Bersiap Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Baru di Pesisir Kalimantan
KALBARNEWS.CO.ID (KAYONG UTARA) – Pulau Penebang di Kecamatan Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, mulai berkembang sebagai kawasan yang diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Kehadiran Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) dinilai tidak hanya memperkuat hilirisasi mineral nasional, tetapi juga mulai memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya. Kamis (2/7/2026).

Kawasan industri yang dikelola PT Dharma Inti Bersama (DIB) tersebut dirancang sebagai salah satu pusat pengolahan bauksit dan aluminium. Seiring proses pembangunan yang terus berlangsung, berbagai dampak ekonomi mulai dirasakan, baik dari sisi pertumbuhan daerah maupun peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Perkembangan tersebut tercermin dari pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kayong Utara yang mencapai 5,89 persen pada 2025, menjadi capaian tertinggi dalam lima tahun terakhir. Dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD 2027, Bupati Kayong Utara, Romi Wijaya, menyebut keberadaan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Pulau Penebang turut berkontribusi terhadap peningkatan tersebut.
"Keberadaan Proyek Strategis Nasional di Pulau Penebang berkontribusi pada pencapaian angka pertumbuhan ini," ujar Romi.
Selama ini Pulau Penebang dikenal sebagai wilayah yang aktivitas ekonominya didominasi sektor perikanan. Kini, kawasan tersebut mulai bertransformasi seiring pembangunan kawasan industri terpadu yang dipersiapkan sebagai bagian dari penguatan industri hilirisasi di Indonesia.
Direktur KIPP, Rasnius Pasaribu, menjelaskan bahwa pemilihan Pulau Penebang didasarkan pada sejumlah keunggulan strategis. Selain berada dekat dengan cadangan bauksit yang besar, pulau ini tidak berpenghuni sehingga dinilai memiliki potensi konflik sosial yang minim serta didukung akses logistik yang lebih efisien.
"Pemilihan Pulau Penebang sebagai lokasi kawasan dilakukan dengan berbagai pertimbangan strategis, termasuk kedekatan dengan cadangan bauksit terbesar di Indonesia, kondisi pulau yang tidak berpenghuni sehingga minim potensi konflik sosial, serta akses logistik yang efisien," kata Rasnius.
Di sisi lain, pembangunan kawasan industri juga diikuti berbagai program pemberdayaan masyarakat. Salah satunya melalui Program Pelita Penebang yang memberikan pelatihan, peningkatan kompetensi, hingga sertifikasi kepada tenaga kerja lokal agar memiliki daya saing untuk bekerja di kawasan industri.
Menurut Rasnius, program tersebut diharapkan menjadi jalan bagi masyarakat lokal untuk memperoleh kesempatan karier yang lebih baik.
"Harapannya program ini menjadi cahaya yang membuka karier yang baik bagi masyarakat lokal yang memiliki talenta dan kemauan untuk belajar," ujarnya.
Upaya peningkatan kualitas SDM juga diwujudkan dengan mengirimkan 89 pemuda Indonesia, termasuk 14 putra-putri asal Kayong Utara, ke China untuk mempelajari teknologi pengolahan aluminium sebagai bekal menghadapi perkembangan industri hilirisasi.
Tidak hanya fokus pada tenaga kerja, PT DIB juga menjalankan program pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya bagi perempuan pesisir di Desa Pelapis. Melalui pelatihan pengolahan hasil laut, kelompok ibu rumah tangga kini mampu memproduksi berbagai olahan seperti bakso ikan dan nugget ikan yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Seluruh hasil produksi tersebut diserap oleh KIPP.
Rasnius menyebut program tersebut bertujuan meningkatkan nilai ekonomi hasil perikanan sekaligus memperkuat peran perempuan dalam meningkatkan pendapatan keluarga. Saat ini kapasitas produksi kelompok telah mencapai sekitar 200 kilogram setiap bulan dengan peningkatan pendapatan anggota hingga 40 persen.
Meski pembangunan Kawasan Industri Pulau Penebang masih berlangsung secara bertahap, sinergi antara investasi, pengembangan sumber daya manusia, dan pemberdayaan masyarakat mulai membentuk fondasi pertumbuhan ekonomi baru di wilayah pesisir Kayong Utara.
Dari kawasan yang sebelumnya dikenal sebagai sentra perikanan tradisional, Pulau Penebang kini dipersiapkan menjadi bagian penting dalam rantai hilirisasi nasional yang diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi lebih luas bagi Kalimantan Barat maupun Indonesia. (tim Liputan)
Editor : Aan