KALBARNEWS.CO.ID (PONTIANAK) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Supadio mencatat sebanyak 181 titik panas (hotspot) terdeteksi di wilayah Kalimantan Barat selama periode 11 Juli 2026 pukul 00.00 hingga 23.00 WIB. Sebaran hotspot tersebut menjadi indikator meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah.Hotspot Kalbar Capai 181 Titik, Ketapang Dominasi Sebaran Titik Panas
Berdasarkan data BMKG, Kabupaten Ketapang menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 52 titik, terdiri atas 50 titik tingkat kepercayaan menengah, 1 titik rendah, dan 1 titik tinggi.
Posisi berikutnya ditempati Sanggau dengan 26 hotspot, disusul Sintang sebanyak 24 titik, Landak sebanyak 21 titik, serta Kapuas Hulu dan Kayong Utara masing-masing 15 titik.
Sementara itu, Bengkayang terdeteksi 9 hotspot, Sekadau dan Melawi masing-masing 6 titik, Kubu Raya 4 titik, serta Sambas 3 titik. Adapun Mempawah, Kota Pontianak, dan Singkawang tidak terpantau memiliki hotspot selama periode pengamatan tersebut.
Dari total 181 hotspot, BMKG mengklasifikasikan 164 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah, 15 titik pada tingkat kepercayaan tinggi, dan 2 titik pada tingkat kepercayaan rendah. Hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi menjadi perhatian utama karena memiliki peluang lebih besar mengindikasikan adanya kebakaran.
BMKG menjelaskan bahwa deteksi hotspot dilakukan menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada satelit NOAA-20, S-NPP, Terra, dan Aqua. Hotspot merupakan anomali suhu panas yang terpantau satelit dibandingkan kondisi di sekitarnya dan menjadi indikator awal potensi kebakaran hutan maupun lahan.
Dengan masih banyaknya hotspot yang terdeteksi, masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, khususnya di daerah dengan jumlah titik panas yang tinggi seperti Ketapang, Sanggau, dan Sintang. (Tim Liputan)
Editor : Aan