KALBARNEWS.CO.ID (PONTIANAK) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kalimantan Barat memprakirakan sebagian besar wilayah Kalimantan Barat akan mengalami curah hujan rendah pada periode 11–20 Juli 2026. Kondisi tersebut meningkatkan potensi munculnya titik panas (hotspot), terutama di wilayah selatan Kalbar.BMKG: Curah Hujan Kalbar Menurun 11–20 Juli, Waspada Titik Panas di Tiga Daerah
Berdasarkan Prospek Iklim Dasarian II Juli 2026, curah hujan di Kalimantan Barat diprediksi hanya berkisar 0–50 mm per dasarian dengan sifat hujan bawah normal hingga normal. Kabupaten Ketapang, Kayong Utara, dan Kubu Raya menjadi wilayah yang paling berpotensi mengalami curah hujan rendah sehingga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan (karhutla).
BMKG menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor atmosfer, di antaranya El Nino yang terus menguat dengan indeks +1,69, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang berada di fase 7 sehingga mengurangi pembentukan awan hujan, serta dominasi angin timuran di sebagian besar wilayah Indonesia.
Selain itu, anomali suhu muka laut di sekitar perairan Kalimantan Barat yang cenderung hangat dan kondisi Outgoing Longwave Radiation (OLR) bernilai positif turut menyebabkan berkurangnya potensi pertumbuhan awan hujan.
Meski secara umum hujan masih berpeluang terjadi, BMKG menyebut peluang curah hujan di bawah 50 mm per dasarian mencapai lebih dari 70 persen di seluruh wilayah Kalimantan Barat. Sementara peluang hujan tinggi di atas 100 mm hingga 150 mm per dasarian diprediksi nihil.
BMKG juga mencatat hari tanpa hujan terpanjang hingga 10 Juli 2026 mencapai 11 hari dengan kategori menengah, yang terjadi di beberapa kecamatan di Kabupaten Ketapang, Kayong Utara, dan Sekadau.
Masyarakat, pemerintah daerah, serta pelaku usaha diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan, menjaga ketersediaan air, dan tidak melakukan pembakaran lahan, mengingat kondisi cuaca yang lebih kering berpotensi memicu munculnya titik panas dan kebakaran hutan maupun lahan selama pertengahan Juli ini. (Tim Liputan)
Editor : Aan