KALBARNEWS.CO.ID (TIONGKOK) - Para ilmuwan dari Institut Termofisika Teknik di Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok dan Universitas Xi'an Jiaotong telah mengusulkan untuk mengubah jaringan pipa pemanas distrik perkotaan menjadi sistem penyimpanan energi skala besar. Para Ilmuwan Tiongkok Telah Mengusulkan Penyimpanan Energi Dalam Jaringan Pipa Pemanas Perkotaan
Pada musim panas, ketika sistem pemanas tidak digunakan, mereka mengusulkan untuk mengisi pipa-pipa tersebut dengan udara terkompresi yang dihasilkan menggunakan kelebihan listrik dari pembangkit listrik tenaga surya dan angin. Menurut perhitungan mereka, pendekatan ini dapat terbukti lebih murah dan lebih efisien daripada sistem penyimpanan energi udara terkompresi (CAES) tradisional.
Teknologi CAES dianggap sebagai salah satu cara paling menjanjikan untuk menyimpan sejumlah besar listrik. Prinsipnya relatif sederhana: ketika listrik yang dihasilkan lebih banyak daripada yang dibutuhkan konsumen, listrik tersebut digunakan untuk memampatkan udara. Udara ini kemudian disimpan di bawah tekanan tinggi dan, bila perlu, dilepaskan melalui turbin untuk pembangkitan listrik.
Minat terhadap sistem semacam ini terus meningkat di Tiongkok. Tahun ini, misalnya, Harbin Electric Corporation mengumumkan peluncuran salah satu fasilitas CAES adiabatik terbesar di dunia, dengan kapasitas 2,4 GWh, di Provinsi Jiangsu. Fasilitas ini terletak di dalam gua garam dan dirancang untuk penyimpanan listrik jangka panjang tanpa pembakaran bahan bakar atau emisi karbon dioksida.
Namun, sistem CAES tradisional memiliki keterbatasan utama. Sistem ini membutuhkan tangki logam bertekanan tinggi yang besar atau struktur geologis, seperti gua garam. Kedua pilihan tersebut memerlukan biaya yang signifikan.
Kali ini, para ilmuwan Tiongkok mengusulkan untuk menggunakan infrastruktur yang tersedia – jaringan pipa pemanas distrik perkotaan. Di musim panas, ketika pipa pemanas tidak digunakan, jaringan pipa tersebut dapat berfungsi sebagai fasilitas penyimpanan udara terkompresi raksasa.
Untuk menguji gagasan tersebut, para peneliti mensimulasikan pengoperasian jaringan pipa pemanas perkotaan yang membentang hampir 35 km dengan diameter pipa antara 1 hingga 1,4 m. Total volume fasilitas penyimpanan tersebut melebihi 38.000 meter kubik. Perhitungan menunjukkan bahwa sistem tersebut mampu menyimpan sekitar 229 MWh energi dengan daya keluaran hampir 44 MW. Cadangan ini cukup untuk memasok listrik ke puluhan ribu apartemen di kota selama beberapa jam atau untuk meratakan puncak beban di distrik perkotaan besar.
Ketika sistem baru tersebut dibandingkan dengan fasilitas penyimpanan udara terkompresi tradisional yang berbasis tangki logam, ternyata pipa panas mampu menyimpan energi sekitar 35% lebih banyak untuk volume yang sama.
Analisis ekonomi juga telah menunjukkan keunggulan konsep baru ini. Menurut perkiraan para peneliti, biaya konstruksi sistem ini hanya 57% dari biaya fasilitas penyimpanan udara terkompresi tradisional. Selain itu, sistem baru ini dapat balik modal dalam waktu sekitar 10 hingga 12 tahun, sedangkan fasilitas penyimpanan udara terkompresi tradisional membutuhkan waktu sekitar 30 tahun. (Tim Liputan)
Editor : Aan