Menjaga Mimbar dan Moral: Catatan Perjalanan ke Taman Suci Lapangan Sapu Jagat Khalwat Kerajaan Tanjungpura

Editor: Redaksi author photo

Lapangan terbuka yang berfungsi sebagai tempat salat di Taman Suci Sapu Jagat. Juga dua prasasti hitam di ujungnya menjadi saksi bukti perjalanan Syekh Maghribi dan para penguasa Matan dalam menjaga identitas budayanya.
KALBARNEWS.CO.ID (KETAPANG) - Cuaca sangat terik hari itu, berbanding terbalik dengan tempatku berdiri. Teduh, sejuk dari pepohonanan sekitar membawa perasaan nyaman tersendiri. Jalan setapak bercabang dihadapanku seolah memberikan pilihan arah untuk menemukan jati diri. 

Di penghujung jalan, tercium wangi bunga yang bercampur dengan suasana asri dari hutan sekitar kiri dan kananku. Terdengar juga senandung burung-burung yang mungkin sedang menjalani hidup seperti biasanya. (5/6/2026).

Tentram dan nyaman—dua hal yang kudapat melalui proses bernegosiasi dengan kondisi jalan yang tidak menentu. Lubang-lubang dalam di tengah jalan dan debu kering yang menutupi pandangan adalah hal yang biasa. 

Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya sekadar hambatan fisik belaka. Namun menurut pandanganku, ini adalah bagian dari observasi. Melihat bagaimana warga lokal melintasi jalan ini setiap hari dengan tenang serta tanpa banyak bicara, memberikan gambaran awal karakter masyarakat di sini.


Lapangan Khalwat Sapu Jagat

Setiba di Taman Suci Lapangan Sapu Jagat, Pak Haji Astarlion tersenyum dari dalam pondok terbuka saat melihatku. Sambil menyusun kopiah, beliau mengijinkanku masuk. 

Kami sempat berbasa-basi sebelum beliau dengan nada yang tenang berkata Sapu Jagat ini adalah tempat membersihkan diri, baik fisik maupun spiritual. Disini, kita bersujud di tanah untuk mengingat bahwa kita hanyalah makhluk kecil yang pada akhirnya juga akan kembali ke tanah.

Sebagai penjaga amanah di tempat ini, beliau membekaliku catatan silsilah penguasa Matan serta sejarah Syekh Magribi. Namun, pemandangan di depan matalah yang benar-benar menghentikan langkahku. Lapangan Khalwat Sapu Jagat.

Sepetak tanah yang unik. Tidak ada dinding maupun atap yang menaungi, seperti di sini doa-doa dibiarkan lepas terbang langsung menuju langit. Tak ada marmer mewah, alas sujudnya malah hanya terdiri dari tanah padat. 

Kesederhanaan ini secara instan meruntuhkan ekspektasiku tentang kemegahan ibadah. Dalam kesederhanaannya, kebersihan yang terpelihara di atas tanah kosong mengajarkanku satu hal—bahwa nilai spiritual memang tidak memerlukan tambahan benda mati.


Ziarah di Tengah Keterbatasan

Terdapat ironi yang aku alami di tempat tersebut. Tempat sejarah yang ditandai oleh dua buah prasasti hitam yang gagah itu berada di ujung jalan seolah terabaikan. Tetapi, lubang dan debu jalanan ternyata bukanlah tandingan bagi magnet sejarah Sapu Jagat. Tersaji di depan mata sekumpulan kendaraan dari luar daerah yang terparkir.

Sebuah bukti bahwa warisan peradaban Matan ini memiliki daya tarik sendiri dan melewati batas kenyamanan perjalanan. Mereka bukanlah turis dengan tujuan berlibur ria, melainkan untuk melakukan perjalanan rohani dan menyentuh bukti sejarah yang selama ini mungkin hanya lewat di layar gawai atau cerita-cerita orang tua.


Kesegaran di Sumur Sapu Jagat

Puncak pengalaman tiba ketika berada di tepian Sumur Sapu Jagat.  Juru  Kunci Astarlion menyarankanku mengambil tindakan berupa membasuh badan di tempat tersebut. Air itu dingin dan bersih, sebaliknya dari air perkotaan yang kadang-kadang terasa ‘lelah’. 

Setiap kali air menyerbu permukaan kulit, rasanya bukan hanya membuat bersih, tetapi segar sampai ke titik jiwaku.

Bermandi di sumur yang dikatakan tak akan pernah habis ini bukanlah suatu ritual semata. Ini adalah rasa hormat kepada budaya setempat. Aku belajar banyak dari konsistensi air yang senantiasa ada sampai kerendahan hati untuk tunduk terhadap budaya tempat di mana kita tinggal.


Sebuah Pesan Untuk Pulang

Kunjungan ke Tanjungpura ini memberikan sebuah pukulan pemikiran baru bagiku. Karakter sebuah bangsa tidak saja didasar dari seberapa maju infrastruktur, tetapi juga seberapa kuat masyarakatnya dalam menggigit akar sejarah mereka.

Memilukan rasanya melihat tempat seberharga ini masih tetap teguh di tengah gempuran tren lain yang lebih disukai anak muda kita. Sering kali berteriak tentang krisis identitas, kita lupa untuk mengembangkan apa yang kita punya.

Saat melalui jalan pulang yang tetap berlubang dan penuh debu tersebut, pandangan mataku sudah berubah. Jalan yang rusak tersebut menjadi pesan bagiku kalau kita masih terus bersikap apatis dan membiarkan sejarah ini terkubur debu, maka nilai integritas dan karakter bangsa ini pun akan ikut sirna. 

Melestarikan budaya bukanlah soal memuja masa lalu, melainkan soal harga diri kita dalam menjaga jati diri di masa depan. (Abe Ghean)

Editor : Aan

Share:
Komentar

Berita Terkini