![]() |
| Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kalimantan Barat, Muhamad Sani, SH., MAP |
KALBARNEWS.CO.ID (PONTIANAK) –
Peristiwa pelemparan bom molotov yang dilakukan oleh seorang siswa di SMP
Negeri 3 Kubu Raya pada hari Selasa (3/2/2026) menjadi perhatian serius
berbagai pihak. Kejadian tersebut dinilai sebagai alarm keras bagi dunia
pendidikan, khususnya terkait pembinaan karakter, kesehatan mental, dan
pengawasan terhadap peserta didik.
Ketua Forum Kewaspadaan Dini
Masyarakat (FKDM) Kalimantan Barat, Muhamad Sani, SH., MAP, menyampaikan
keprihatinannya atas insiden yang melibatkan pelajar di lingkungan sekolah.
Menurutnya, aksi tersebut tidak dapat dianggap sebagai peristiwa biasa dan
harus menjadi perhatian bersama.
“Ini sangat memprihatinkan.
Ketika pelajar sudah terlibat dalam tindakan berbahaya seperti pelemparan bom
molotov, maka ini menjadi tanda bahwa ada persoalan mendasar yang harus segera
dibenahi di dunia pendidikan,” ujar Muhamad Sani, Rabu (4/2/2026).
Ia menegaskan, seluruh pihak
harus terlibat aktif dalam pembinaan dan pengawasan, mulai dari keluarga,
sekolah, pemerintah daerah, hingga aparat penegak hukum.
“Penanganannya tidak bisa hanya
sebatas proses hukum. Pembinaan mental, karakter, dan pengawasan terhadap
anak-anak kita harus diperkuat. Dunia pendidikan wajib menjadi ruang yang aman,
nyaman, dan bebas dari kekerasan,” tegasnya.
Dari sudut pandang psikologi
pendidikan, psikolog Pendidikan, Ketua FKDM Kalbar ini menilai
bahwa perilaku ekstrem yang dilakukan oleh pelajar umumnya dipicu oleh
akumulasi masalah psikososial yang tidak tertangani sejak dini.
“Pada usia remaja awal, emosi
anak masih sangat labil. Jika tekanan di rumah, lingkungan pergaulan, atau di
sekolah tidak tersalurkan dengan baik, maka bisa muncul perilaku agresif
sebagai bentuk pelampiasan,” jelasnya.
Menurutnya, sekolah perlu
memperkuat peran guru Bimbingan dan Konseling (BK) serta membangun sistem
deteksi dini terhadap perubahan perilaku siswa.
“Pendekatan represif saja tidak
cukup. Yang dibutuhkan adalah pendampingan psikologis, komunikasi intensif
antara sekolah dan orang tua, serta ruang aman bagi siswa untuk mengekspresikan
masalahnya,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya
pendidikan karakter dan literasi emosi dalam kurikulum sekolah agar siswa mampu
mengelola emosi, menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, serta memahami
konsekuensi dari setiap tindakan.
Sementara itu, aparat kepolisian
masih melakukan pendalaman terkait motif dan latar belakang pelaku dengan tetap
mengedepankan prinsip perlindungan anak sesuai ketentuan perundang-undangan.
Diketahui sebelumnya, peristiwa
pelemparan bom molotov di SMP Negeri 3 Kubu Raya mengakibatkan satu orang
mengalami luka dan telah mendapatkan penanganan medis. Kondisi korban
dilaporkan stabil dan sudah dipulangkan ke rumah.
FKDM Kalbar berharap insiden ini
menjadi momentum evaluasi bersama agar dunia pendidikan di Kalimantan Barat
benar-benar menjadi lingkungan yang aman, sehat, dan mendukung tumbuh kembang
anak. (tim liputan).
Editor : Heri
