Mahasiswa Pascasarjana UNTAN Dorong Pembangunan Partisipatif di Desa Bakau Sambas

Editor: Redaksi author photo

Mahasiswa Pascasarjana UNTAN Dorong Pembangunan Partisipatif di Desa Bakau Sambas
KALBARNEWS.CO.ID (SAMBAS)  – Semangat gotong royong terasa kuat di Desa Bakau, Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas. Selama tiga hari, 6–8 Februari 2026, desa pesisir ini menjadi ruang kolaborasi antara akademisi dan masyarakat dalam program Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) mahasiswa Program Magister Ilmu Sosial FISIP Universitas Tanjungpura (UNTAN) Pontianak. (11/2/2026).


Sebanyak 11 mahasiswa Magister Ilmu Administrasi Publik turun langsung ke lapangan, berbaur dengan warga di lima dusun: Bakti, Sadar, Karya, Seradi, dan Seradi Selatan. Di bawah bimbingan Dr. Sudirman, M.Si, serta pengawasan monitoring dan evaluasi oleh Dr. Erdi, M.Si, kegiatan ini dirancang berbasis pembangunan partisipatif—mengutamakan keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap prosesnya.


Tak sekadar program simbolis, mahasiswa bersama warga membangun papan nama dusun permanen sebagai penguat identitas wilayah. Mereka juga melakukan revitalisasi Surau Al-Ikhlas melalui pengecatan dan pembersihan, menghadirkan wajah baru yang lebih bersih dan nyaman bagi masyarakat untuk beribadah. 


Selain pembangunan fisik, edukasi juga menjadi fokus utama melalui penyuluhan tentang kecermatan memilih dan membeli makanan serta minuman, guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap keamanan pangan.


Ketua kelompok PPM, Hijrah Akbar, menegaskan bahwa kekuatan kegiatan ini terletak pada partisipasi warga.


“Kami ingin kegiatan ini tidak hanya meninggalkan hasil fisik, tetapi juga memperkuat modal sosial dan kapasitas masyarakat agar Desa Bakau dapat terus berkembang secara mandiri,” ujarnya.


Antusiasme warga terlihat dari keterlibatan mereka dalam kerja bakti hingga diskusi edukatif. Suasana kebersamaan dan saling mendukung menjadi bukti bahwa pembangunan desa yang efektif lahir dari kolaborasi, bukan semata intervensi dari luar.


Program ini merupakan implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran mahasiswa pascasarjana di Desa Bakau menegaskan bahwa perguruan tinggi bukan hanya pusat pengembangan teori, tetapi juga mitra strategis dalam mendorong pembangunan desa yang inklusif, berkelanjutan, dan berbasis kebutuhan riil masyarakat.


Desa Bakau pun menjadi contoh bahwa ketika ilmu pengetahuan berpadu dengan semangat gotong royong, perubahan bukan lagi sekadar wacana—melainkan kenyataan yang tumbuh bersama. (tim Liputan)

Editor : Aan

Share:
Komentar

Berita Terkini