| Hujan Mulai Reda, Kalbar Diminta Siaga Titik Panas |
Kondisi ini membuat masyarakat diminta beralih dari kewaspadaan banjir menuju potensi munculnya titik panas (hotspot) dan ancaman pasang air laut.
Berdasarkan analisis Dasarian I periode 1–10 Januari 2026, curah hujan di Kalimantan Barat masih berada pada kategori menengah hingga tinggi. Curah hujan tertinggi tercatat mencapai 325 milimeter di Kecamatan Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau. Namun, memasuki Dasarian II periode 11–20 Januari 2026, kondisi atmosfer diprediksi mengalami perubahan signifikan.
Penurunan curah hujan ini dipengaruhi oleh fenomena Outgoing Longwave Radiation (OLR) yang bernilai positif serta suhu muka laut yang cenderung mendingin.
Kondisi tersebut menyebabkan berkurangnya pembentukan awan hujan, sehingga sebagian besar wilayah Kalbar diprakirakan mengalami curah hujan rendah hingga menengah, berkisar antara 75 hingga 150 milimeter per dasarian.
Seiring menurunnya intensitas hujan, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai meningkat. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap munculnya titik panas, terutama di wilayah yang mulai mengalami hari tanpa hujan.
Selain itu, warga juga diminta mulai menghemat dan menyiapkan cadangan air bersih untuk mengantisipasi periode kering yang lebih panjang.
Saat ini, Hari Tanpa Hujan (HTH) terpanjang di Kalimantan Barat masih tercatat selama dua hari, masing-masing terjadi di Kota Singkawang dan Kabupaten Melawi. Namun, angka tersebut diperkirakan berpotensi bertambah seiring berlanjutnya fase kering pada dasarian ini.
Meski ancaman banjir akibat hujan daratan berada pada kategori aman hingga rendah, masyarakat pesisir tetap diminta waspada. Terdapat potensi pasang air laut (rob) dengan ketinggian maksimum mencapai 1,9 meter yang diperkirakan terjadi pada 17 hingga 21 Januari 2026, terutama pada pagi hari antara pukul 05.00 hingga 09.00 WIB.
Di sisi lain, kondisi ini menjadi kabar baik bagi sektor pertanian. Untuk tanaman padi, dasarian ini diprediksi relatif aman dari risiko banjir, sehingga petani dapat mengoptimalkan aktivitas pertanaman tanpa kekhawatiran genangan air yang berlebihan.
Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca dan iklim terbaru melalui kanal resmi BMKG sebagai langkah antisipasi terhadap perubahan cuaca yang dinamis.(Tim Liputan)
Editor : Aan