BMKG Deteksi 85 Titik Panas di Kalbar, Kubu Raya Dominasi Hotspot
KALBARNEWS.CO.ID (PONTIANAK) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebanyak 85 titik panas (hotspot) di wilayah Kalimantan Barat pada 21 Januari 2026, berdasarkan pemantauan satelit sepanjang pukul 00.00 hingga 23.00 WIB.
Data sebaran hotspot menunjukkan bahwa Kabupaten Kubu Raya menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 23 titik, seluruhnya berada pada tingkat kepercayaan menengah, serta satu titik pada tingkat kepercayaan rendah. Kondisi ini mengindikasikan adanya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang perlu diwaspadai.
Selain Kubu Raya, Kabupaten Sintang tercatat memiliki 18 titik panas, dengan rincian 12 titik kepercayaan menengah dan 6 titik kepercayaan tinggi. Tingginya jumlah hotspot dengan kepercayaan tinggi menandakan potensi kejadian kebakaran yang lebih serius di wilayah tersebut.
Di wilayah pesisir, Kabupaten Mempawah terpantau memiliki 12 titik panas, sementara Kabupaten Sanggau tercatat sebanyak 10 titik dengan tingkat kepercayaan menengah. Kabupaten Sambas juga terdeteksi memiliki 10 titik panas, termasuk satu titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Adapun wilayah lain seperti Ketapang terpantau memiliki 3 titik panas, Kapuas Hulu sebanyak 3 titik, Sekadau sebanyak 4 titik, Melawi dan Singkawang masing-masing 1 titik panas. Sementara itu, Kabupaten Bengkayang, Landak, Kayong Utara, dan Kota Pontianak tidak terdeteksi adanya hotspot.
Secara keseluruhan, dari total 85 titik panas yang terdeteksi, terdiri atas 7 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi, 76 titik kepercayaan menengah, dan 2 titik kepercayaan rendah.
BMKG menjelaskan, deteksi hotspot dilakukan menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada satelit polar NOAA-20, S-NPP, Terra, dan Aqua. Satelit tersebut mampu mendeteksi anomali suhu panas yang mengindikasikan adanya aktivitas kebakaran hutan dan lahan, baik siang maupun malam hari.
BMKG mengingatkan bahwa wilayah yang tertutup awan tebal atau berada dalam kondisi blank zone berpotensi tidak terdeteksi hotspot, sehingga koordinasi lintas sektor tetap diperlukan untuk pencegahan dan penanganan karhutla.gera melaporkan jika menemukan indikasi kebakaran di lingkungan sekitar. (tim Liputan)
Editor : Aan