![]() |
| Steven Greatness, Wakil Sekretaris Jenderal MABT Indonesia |
KALBARNEWS.CO.ID (PONTIANAK) -
Perayaan Imlek 2577 Kongzili ada yang menyebutnya 4724 HE (Huangdi Era) tahun
2026 Kuda Api yang dimulai pada Selasa (17/2/2022) akan ditutup dengan puncak
perayaan Cap Go Meh 2026 pada hari Selasa (3/3/2026) mendatang.
Ketua Umum Kaum Muda Tionghoa
(KMT) Kalimantan Barat, Steven Greatness menjelaskan warga Tionghoa merayakan
hari Cap Go Meh berdasarkan kombinasi 10 tian gan dan 12 di zhi yang merupakan
bagian sistem penanggalan Imlek.
Sebutan Cap Go Meh berasal dari
dialek Tiociu atau Hokkien, yang artinya malam kelima belas. Sedangkan dalam
dialek Hakka disebut Cang Nyiat Pan yaitu pertengahan bulan satu.
Sementara di negeri daratan
Tiongkok, perayaan Cap Go Meh dalam bahasa mandarin disebut Yuan Xiau Ciek
artinya festival malam bulan satu, sedangkan di negeri barat lebih dikenal
dengan Lantern Festival.
Adapun sajian khas yang menjadi
bagian penting Cap Go Meh, yakni Yuan Xiao atau Tang Yuan. Yuan Xiao adalah
sejenis adonan tepung beras yang lengket, di dalamnya diisi manisan serta
dibentuk seperti bola-bola kecil.
“Filosofi istilah Yuan Xiao
mempunyai arti malam di hari pertama. Makanan ini melambangkan bersatunya
sebuah keluarga besar yang memang menjadi tema utama dari perayaan Tahun Baru
Imlek yang diakhiri dengan Cap Go Meh,” tutur Steven Greatness yang beberapa
waktu lalu dilantik menjabat Wakil Sekretaris Jenderal MABT Indonesia itu.
Menurut dia, hari raya warga
Tionghoa, baik dipandang dari sudut religius maupun tradisi budaya memiliki
asal-usul yang diceritakan dari mulut ke mulut, legenda, dan berdasarkan buku
yang memiliki beragam versi tergantung budaya, tradisi dan daerah masing-masing.
Steven Greatness mengatakan,
perayaan Cap Go Meh setidaknya diyakini ada dua versi. Versi pertama adalah
Yuan Xiau Ciek yaitu satu di antara festival yang dirayakan sejak Dinasti Xie
Han (206 SM-24 M) untuk menandakan berakhirnya perayaan Tahun Baru Imlek.
“Secara spiritual pada umat
penganut Taoisme, Cap Go Meh dikenal sebagai San Yuan yaitu hari lahir Shang
Yuan Thian Kuan atau Dewa Langit yang memberikan karunia pada manusia,”
tuturnya.
Sedangkan pada Dinasti Tung Han
(25-220), Kaisar Liu Chang memperingati perayaan Yuan Xiau Ciek untuk
menghormati Sang Buddha Sakyamuni yang telah menampakkan diri pada tanggal 30
bulan 12 Imlek di daratan barat, yang ditafsirkan sama dengan tanggal 15 bulan
1 penanggalan Imlek di Daratan Timur.
Karena itu, kaisar juga
memerintahkan rakyatnya sembahyang syukuran, arak-arakan, memasang lampion, dan
atraksi kesenian rakyat pada malam hari tepatnya Cap Go Meh.
Steven menambahkan, perayaan
tersebut berlanjut secara turun-temurun hingga sekarang diperingati masyarakat
Tionghoa yang menganut Tridharma sebagai hari raya religius umat Taoisme,
Buddhis, dan Konghucu.
“Bagi warga Tionghoa lainnya yang
bukan umat Tridharma, Cap Go Meh dirayakan sebagai hari raya tradisi budaya
Yuan Xiau Ciek atau Cap Go Meh atau Lantern Festival sesuai kondisi dan situasi
daerah masing-masing,” papar Steven yang juga Ketua Generasi Muda Buddhis
Indonesia (Gemabudhi) Kalimantan Barat.
Ia melanjutkan pada versi kedua,
berdasarkan cerita rakyat Dinasti Tung Zhou (770 SM - 256 SM) di mana para
petani pada tanggal 15 bulan 1 Imlek memasang lampion yang disebut Chau Tian
Can di sekeliling ladang untuk mengusir hama dan menakuti binatang perusak
tanaman.
Petani saat itu juga melihat
perubahan warna api dalam lampion pada malam hari yang dipercaya perubahan itu
akan menandakan cuaca yang akan datang, apakah kemarau panjang atau lebih
banyak hujan sepanjang tahun.
Dengan begitu, setiap tahun pada
hari yang sama petani akan memasang lampion di sekeliling ladang. Setiap tahun
semakin bertambah banyak lampion yang dipasang sehingga membentuk suatu
pemandangan yang indah pada tanggal 15 bulan 1 penanggalan Imlek.
“Memasang lampion selain
bermanfaat mengusir hama, juga tercipta pemandangan yang indah. Sedangkan untuk
menakuti binatang perusak tanaman, petani menambahkan segala bunyi-bunyian,
bermain barongsai serta arak-arakan tatung sebagai tolak bala,” tutur Steven
yang juga Wakil Ketua Permabudhi Kalbar.
Kepercayaan dan tradisi budaya
tersebut akhirnya berlanjut dan berkembang turun-temurun baik di daratan
Tiongkok maupun di daerah perantauan di seluruh dunia sesuai kondisi dan
situasi negara masing-masing, termasuk di Indonesia, khususnya Kalimantan Barat.
(sgt).
Editor : Heri
