
Hampir separuh dari seluruh energi yang dikonsumsi di Eropa dihabiskan untuk pemanasan dan pendinginan gedung. Sekitar dua pertiga energi termal masih dihasilkan oleh gas, batu bara, dan bahan bakar fosil lainnya. Hal ini tidak hanya menghasilkan emisi CO₂ yang tinggi tetapi juga membuat perekonomian nasional bergantung pada bahan baku impor.
Uni Eropa telah menetapkan target pengurangan emisi sebesar 55% pada tahun 2030 dan mencapai netralitas iklim pada tahun 2050-an. Strategi ini memandang sistem pemanas dan pendingin distrik sebagai alat utama: sistem ini memungkinkan integrasi sumber-sumber energi terbarukan utama dan mendistribusikan energi yang dihasilkan ke seluruh distrik.
Para peneliti menguji beberapa sistem sebagai bagian dari proyek WEDISTRICT Eropa di berbagai lokasi di Bucharest, Rumania, Luleå, Swedia, dan Córdoba, Spanyol.
Di Bucharest, penelitian ini berfokus pada sebuah gedung yang terletak di kampus Universitas Politeknik Bucharest. Gedung tersebut dulunya dipanaskan oleh boiler gas 110 kW, dengan pemanas listrik yang menyediakan air panas dan pendingin ruangan. Para peneliti mengganti sistem pemanas dengan pompa panas geotermal dan panel surya.
Hal ini mengurangi emisi karbon dioksida sebesar 67%, dan penggantian pembangkit listrik tenaga batu bara dan gas di jaringan listrik nasional menghasilkan jejak karbon negatif. Namun, teknologi baru ini membutuhkan logam dan mineral langka dalam jumlah yang lebih besar, sehingga meningkatkan tekanan pada sumber daya lahan, yang berarti diperlukan ruang tambahan untuk peralatan tersebut.
Di Luleå, sebuah proyek percontohan dilaksanakan di taman sains tempat pusat penelitian RISE berada. Taman tersebut dulunya menerima energi termal dari jaringan pemanas distrik yang ditenagai oleh gas dari pabrik baja. Sebagai bagian dari WEDISTRICT, sebuah pusat data terhubung ke sistem: servernya dikonversi ke pendingin cair, dan kelebihan panas dikirim ke sel bahan bakar oksida padat yang ditenagai oleh biogas.
Unit-unit tersebut menghasilkan listrik untuk pusat data, yang menghasilkan panas untuk jaringan pemanas distrik. Hal ini mengurangi emisi hampir setengahnya, dengan jejak karbon negatif setelah memperhitungkan energi yang dipindahkan.
Di saat yang sama, konsumsi air meningkat seiring dengan penggunaan bahan kimia dalam produksi biogas.
Di Córdoba, sebuah proyek demo dilaksanakan di Kampus Rabanales. Sebelum diperkenalkannya teknologi baru, beberapa gedungnya telah dipanaskan oleh pompa kalor dan boiler berbahan bakar gas. Sebagai bagian dari WEDISTRICT, tiga jenis konsentrator surya, boiler biomassa dengan sistem pengendalian emisi, kulkas absorpsi, dan modul berpendingin udara telah dipasang.
Selain itu, tangki penyimpanan panas dirakit untuk memastikan sistem dapat beroperasi bahkan saat cuaca mendung. Hasilnya, emisi CO₂ turun sebesar 63%, dengan pengurangan konsumsi air dan bahan bakar fosil. Pada saat yang sama, permintaan logam meningkat tajam, begitu pula area yang dibutuhkan untuk instalasi surya dan infrastruktur terkait.
Manfaat lingkungan dari integrasi energi terbarukan ke dalam sistem pemanas dan pendingin terpusat secara umum terlihat jelas: ketiga proyek telah berhasil mengurangi jejak karbon mereka secara signifikan. Namun, tantangan lain muncul, seperti meningkatnya permintaan logam langka, air, dan lahan. Dengan kata lain, tekanan tersebut tidak hilang, melainkan bergeser dari satu bagian ekosistem ke bagian lainnya.
Dampak sosialnya pun terbukti kontradiktif. Di satu sisi, lapangan kerja meningkat di semua proyek. Selain itu, kecelakaan kerja pun berkurang. Di sisi lain, upah berada di bawah rata-rata nasional, dan di beberapa lokasi, kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas menjadi mustahil.
Dalam hal ini, para peneliti menekankan bahwa transisi energi yang efektif hanya dapat dicapai apabila inovasi teknis disertai dengan langkah-langkah untuk menciptakan lapangan kerja dengan upah yang layak, mempertahankan manfaat sosial, dan melibatkan kelompok rentan. (Tim liputan)
Editor : Aan