-->

BREAKING NEWS

TERIMA KASIH TELAH MENGIKUTI INFORMASI DARI KAMI DI WWW.KALBARNEWS.CO.ID, MERASA DIRUGIKAN PT SULTAN RAFLI MANDIRI LAPORKAN OTAK KERUSUHAN AKSI UNJUK RASA BEBERAPA WAKTU YANG LALU DI KETAPANG, DUA ANGGOTA DPRD KAB KUBU RAYA DAN SATU TENAGA KONTRAK DI SEKRETARIAT DPRD KAB KUBU RAYA TERKONFIRMASI POSITIF COVID-19, SEMENTARA AKTIFITAS DI SEKRETARIAT DITUTUP SELAMA 7 HARI, APARAT KEPOLISIAN TERUS USUT DAN KEJAR PELAKU PEMBUNUHAN IBU DAN ANAK DI PONTIANAK TIMUR KALIMANTAN BARAT,  

Bupati Puji Akademi Paradigta Kabupaten Kubu Raya

Redaksi author photo

 
Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan di dampingi Direktur Akademi Paradigta Kubu Raya
Kubu Raya (Kalbar News) – Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan hadiri Wisuda Kader Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) Kabupaten Kubu Raya di Aula Kantor Bupati Jl Arteri Pontianak, Rabu (24/04/2019).

Wisuda Kader Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) juga di hadiri Perwakilan Direktorat Pelayanan Sosial Dasar Kementerian Desa PDTT, Ibrahim Bouty, Direktur Pekka Kabupaten Kubu Raya.

Direktorat Pelayanan Sosial Dasar Kementerian Desa PDTT, Ibrahim Bouty berharap para alumnus Akademi  Paradigta dapat ikut memperkuat Tata Kelola Desa, sehingga pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa dapat terwujud secara cepat dan transparan. Lebih jauh dirinya meminta Dana Desa digunakan untuk kesejahteraan Masyarakat melalui perencanaan dan penggunaan yang tepat sasaran. 

“Apa yang sudah diperoleh melalui pendidikan yang difasilitasi Pekka dan pemerintah daerah harus dapat diaktualisasikan di masyarakat khususnya Masyarakat Desa,” pesannya.

Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan mengatakan banyak dampak positif pada pembangunan keluarga dan perempuan dari hasil pendidikan di Akademi Paradigta. Di antaranya para peserta dan alumni akademi kini memiliki kemampuan dan keberanian untuk bicara. Dengan begitu para perempuan menjadi mampu memberikan pendapat dan akhirnya lahir inisiatif-inisiatif dan prakarsa untuk menyelesaikan persoalan di desa. Ia mengungkapkan sektor pemberdayaan perempuan mempunyai bobot yang besar dalam visi dan misi Pemerintah Kabupaten Kubu Raya. Pemerintah daerah, ujarnya, sangat komit pada upaya pemberdayaan perempuan sehingga nantinya mampu berkontribusi dalam proses percepatan pembangunan Desa. 

“Rumusnya kalau kita bicara tentang rumah tangga-rumah tangga, maka perempuan itu punya peranan dan pengaruh signifikan. Karena itu dalam proses penguatan desa-desa, ini juga termasuk penguatan peran perempuan supaya rumah tangga-rumah tangga itu terjamin bisa berdaya. Nah, regulasi-regulasi yang kita keluarkan terkait dengan desa itu sudah mengarah ke sana semua. Termasuk juga regulasi khusus untuk pemberdayaan perempuannya sendiri,” tuturnya.

Muda berharap para alumni Akademi Paradigta dapat berperan menggerakkan masyarakat dalam merespons isu-isu aktual seperti persoalan stunting, penurunan angka kematian ibu, bayi, dan balita, serta angka gizi kurang. 

“Termasuk juga terkait dengan kualitas kehidupan rumah tangga seperti sanitasi dan sebagainya,” tambahnya. 

Alumni Akademi Paradigta, lanjut Muda, diharapkan juga dapat membantu menggerakkan ekonomi rumah tangga. Di antaranya melalui usaha mikro kecil menengah dan penguatan pemberdayaan ekonomi keluarga termasuk di sektor pertanian atau pangan rumah tangga. Melalui cara tersebut dirinya meyakini rumah tangga akan menjadi lebih cepat mandiri. 

“Makanya kaum perempuan ini sangat luar biasa untuk bisa menopang tujuan itu semua. Nah, akademi saya harapkan tetap memberikan komitmen untuk terus menerus mengawal. Desa juga ikut dengan cara mengalokasikan dana desa untuk komitmen kepada program Akademi Paradigta ini,” harapnya. 

Muda berharap desa-desa yang belum memprogramkan Akademi Paradigta dapat memulai untuk mengalokasikan dananya untuk program akademi. Meskipun pesertanya tidak banyak. 

“Akademi Paradigta sudah di enam kecamatan. Jadi sudah hampir menyeluruh. Saya kira tinggal nanti setiap tahun akan diupayakan melakukan intervensi untuk mempercepat penguatan program ini,” pungkasnya. 

Peserta Akademi dari Desa Durian Kecamatan Sungai Ambawang, Jubaidah (43) mengaku bertambah pengetahuan setelah mengikuti Akademi. Ia kini memahami tentang peraturan desa, APBDes, dan profil desa yang dulu tidak diketahuinya.

“Dulu ngomong saja saya tidak mau. Tak pernah saya bicara dengan Staf Desa apalagi Kepala Desa karena merasa takut salah bicara dan malu. Sekarang saya percaya diri,” tegasnya. (rio/tim liputan)

Editor : Heri K

Komentar Anda

Berita Terkini