![]() |
| EY (19) Siswa Pelaku Pemukulan terhadap Guru |
Kalbar News –Kubu Raya
Masih ingat kasus beberapa waktu lalu yang
terjadi juga di Kubu Raya, seorang guru dianiaya juga dan hal itu kembali
terulang lagi.
Penganiayaan
Seorang Guru kali ini dilakukan EY (19), memang sungguh terlalu.
Bukannya memuliakan seorang guru, dia malah melakukan penganiayaan. Sang guru
sampai benjol kepalanya karena dipukul.
Seperti
disampaikan Kepala Sub Bidang Humas Polda Kalbar, Kompol Cucu Syaifudin, saat
dikonfirmasi Senin (19/6), peristiwa ini terjadi pada Sabtu (17/6). Korban guru
itu seorang perempuan berinisial PR (34).
Saat itu, EY
yang merupakan siswa kelas X SMAN 1 Kubu, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya
tidak terima karena tidak naik kelas. Saat pembagian rapor, nilai yang
didapatkan EY membuatnya tetap tinggal di kelas X.
Menurut Informasi
yang di peroleh Redaksi Kalbarnews.com,
EY merasa sakit hati kepada PR karena beranggapan bahwa nilai mata pelajaran
yang diajarkan oleh korbanlah yang menyebabkan dirinya tidak naik kelas.
Setelah naik pitam, EY langsung mengambil sebuah kursi kayu didekatnya untuk
digunakan sebagai alat untuk menganiaya gurunya tersebut.
EY juga
memukul dengan tangannya ke kepala PR di bagian kening dan kepala bagian
belakang. Akibat pukulan itu PR menderita benjol di bagian kening sebelah kanan
matanya dan merasakan pusing serta trauma yang cukup mendalam atas kejadian
tersebut.
Merasa tidak
terima perlakuan kasar tersebut, PR melaporkan kejadian itu ke Polsek Kubu.
Kasus ini kini ditangani kepolisian terkait pidana pasal 351 KUHP. EY sendiri
sudah diamankan di Polsek Kubu untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Adanya peristiwa penganiayaan yang dilakukan oleh
siswa terhadap gurunya yang notabennya adalah orangtuanya sendiri ketika berada
di sekolah menimbulkan keprihatinan berbagai pihak dan menjadi tanda tanya
besar terhadap dunia pendidikan yang ada di Indonesia khususnya di Kubu Raya..
![]() |
| Samion, Ketua PGRI Provinsi Kalimantan Barat |
hal ini tentu saja menuai keprihatinan semua pihak, demikian pula Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)
Kalbar, Samion, mengatakan kalau hal tersebut menimbulkan keprihatinan dan
sangat disayangkan, seorang murid dengan tega menganiaya gurunya sendiri."Yang jelas prihatin, kenapa pendidikan
sekarang ini seolah-olah tidak ada lagi penghargaan kepada
guru," ucap Samion.
Ini dikatakannya, akibat selama ini ketika guru
memberikan bimbingan dan menegakan disiplin segala macamnya dan ada sentuhan
yang merupakan bagian dari proses dan bagian dari penegakan disiplin. Tapi
selama ini dianggap tabu, kalau guru menegakan disiplin itu sendiri. "Kalau kasus ini karena tidak naik kelas
lalu menganiaya guru, maka jiwa brutalnya susah dibendung. Ini harus ada upaya
bersama," ucapnya.
Apa yang terjadi di Kubu Raya ia katakan adalah
puncak dari penegakan disiplin yang sangat lemah disekolah, hal itu terjadi
karena guru sendiri tidak berani memberikan teguran, apalagi kontak fisik
karenna selalu salah dimata orngtua dan sebagainya.
"Walaupun sentuhan fisik bukan lagi
satu-satunya penegakan disiplin, tapi kalau sudah sampai pada titik dimana guru
tidak bisa menetegur maka akan terjadi, karena dirumah saja biasa tejadi
teguran dan bahkan sentuhan fisik pada anaknya. Sementara di sekolah dibiarkan,
namun orangtua mau anaknya beretika, disiplin dan sebagainya tapi ketika
diarahkan beretika malah salah dimata mereka," tegasnya.
Selaku ketua PGRI ia berharap penegakan disiplin
harus, karena memang krusial, makanya harus ada perlindungan sehingga guru
merasa nyaman dan terarah dalam menjalankan tugas serta menegakan disiplin,
Pungkasnya (es)
Editor :
Edi Suhairul

