KALBARNEWS.CO.ID (KAPUAS HULU) - Denting kecapi dan sahut pantun kembali menggema di Bumi Uncak Kapuas Gedung FKUB Putussibau Kota berubah jadi ruang temu budaya. Turun Gunung, Anak Muda Kapuas Hulu Diajak Jaga Marwah Melayu Lewat Pantun
Sahabat Beramal Kapuas Hulu menggelar Workshop Pantun Pebayu, menyalakan lagi api cinta anak muda pada sastra lisan Melayu yang nyaris padam.
Acara berlangsung meriah, kental nuansa adat. Hadir tokoh adat, tokoh masyarakat, penggiat seni dan budaya, perwakilan OSIS SMA/MA dan SMK se-Putussibau, BEM STIT-IQRA Kapuas Hulu, hingga pegiat Sanggar Betabuh Kapuas Hulu. Lintas generasi duduk semeja, satu tujuan: jangan biarkan pantun hilang.
Workshop juga jadi momentum penting. Bukan sekadar belajar, tapi memperkuat identitas Melayu sekaligus membangkitkan minat generasi muda pada seni berpantun yang mulai jarang digeluti.
Mengusung semangat “Takkan Melayu Hilang di Bumi”, kegiatan ini menjelma wadah silaturahmi budaya lintas usia.
Ketua panitia sekaligus Founder Sahabat Beramal Kapuas Hulu, Een RJ, menyebut kegiatan ini langkah nyata melawan gerusan zaman.
“Melalui kegiatan ini kami ingin membangkitkan kembali kecintaan generasi muda terhadap pantun Melayu. Pantun adalah identitas, adab, dan cara orang Melayu menyampaikan ilmu serta nasihat dengan indah,” ujarnya.
Een RJ berharap workshop ini jadi titik awal lahirnya generasi pemantun muda Kapuas Hulu. “Yang mampu membawa budaya daerah hingga ke tingkat nasional bahkan internasional,” tegasnya.
Workshop kian istimewa dengan hadirnya Agus Rachman, akrab disapa Tuan Guru Agus “Muare” Rachman. Nama beliau tak asing di dunia pantun.
Pemantun internasional yang sudah diakui di berbagai forum budaya dunia. Ia juga penemu Teori 8 Rima Pantun, penulis buku 8 rima pantun, dan founder aplikasi berbasis kecerdasan buatan PANTUNIN AI.
Di hadapan peserta, Tuan Guru Agus mengurai pantun dari hulu ke hilir. Ia jelaskan sejarah dan filosofi pantun sebagai warisan luhur Nusantara yang sarat nilai adab, pendidikan, dan kearifan lokal.
Lalu bedah struktur pantun klasik dan modern, teknik merangkai sampiran dan isi agar harmonis, hingga metode cepat menciptakan pantun lewat Teori 8 Rima Pantun yang ia kembangkan.
Tak berhenti di sastra, Tuan Guru Agus menunjukkan wajah baru pantun. “Pantun dapat menjadi media dakwah, pendidikan karakter, diplomasi budaya, hingga sarana komunikasi kreatif di era digital,” paparnya.
Sesi interaktif jadi paling ditunggu. Tuan Guru Agus memperagakan teknik spontan berpantun, lalu menantang peserta praktik langsung. Awalnya malu-malu. Lama-lama, siswa OSIS, mahasiswa BEM, dan anak sanggar mulai berani.
Tawa pecah, tapi makna mengena. “Pantun bukan sekadar susunan kata berima, tetapi jati diri dan marwah budaya Melayu. Jika generasi muda berhenti berpantun, maka perlahan akar budayanya juga akan memudar,” pesan Tuan Guru Agus disambut tepuk tangan.
Workshop Pantun Pebayu menutup hari dengan semangat baru. Anak muda Kapuas Hulu pulang membawa bekal: sampiran, isi, dan kesadaran bahwa berpantun adalah menjaga diri.
Di tengah gempuran konten asing, Sahabat Beramal Kapuas Hulu memilih jalan sunyi kembalikan anak muda ke akar. Karena selama pantun masih dilantun, “Takkan Melayu Hilang di Bumi” bukan sekadar slogan. Ia janji yang diikrarkan di Gedung FKUB, 2 Mei 2026.(Dulhadi)
Editor : Aan