Para Ilmuwan Rusia Telah Menciptakan Katalis Untuk Bahan Bakar Hayati Yang Tahan Terhadap Embun Beku

Editor: Redaksi author photo

Para Ilmuwan Rusia Telah Menciptakan Katalis Untuk Bahan Bakar Hayati Yang Tahan Terhadap Embun Beku
KALBARNEWS.CO.ID (RUSIA)Para ilmuwan dari Institut Pusat Penelitian Federal untuk Katalisis, Cabang Siberia dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, dengan dukungan dari Yayasan Sains Rusia, telah meningkatkan teknologi untuk memproduksi isoalkana – hidrokarbon yang digunakan dalam pembuatan bahan bakar motor, pelarut, kosmetik, dan produk kimia lainnya. 

Para peneliti telah mengembangkan sistem katalitik baru berdasarkan nikel fosfida dan zeolit ​​silikoaluminofosfat SAPO-11, yang dirancang untuk memproses bahan baku nabati. Penggunaan katalis ini memungkinkan penurunan suhu pembekuan produk akhir secara signifikan sekaligus mengurangi biaya energi produksinya.

Isoalkana dianggap sebagai komponen penting dari bahan bakar modern karena ketahanan terhadap detonasi yang tinggi dan kinerja yang lebih baik pada suhu rendah dibandingkan dengan hidrokarbon linier konvensional. Isoalkana dapat diperoleh tidak hanya dari minyak bumi tetapi juga dari bahan baku terbarukan, seperti minyak nabati atau limbah makanan.

Namun, pendekatan ini memiliki masalah: pengolahan primer menghasilkan alkana linier, yang kurang cocok untuk iklim dingin karena titik tuangnya yang tinggi. Dalam beberapa kasus, titik tuangnya dapat mencapai +20 °C.

Untuk mengatasi masalah ini, para ilmuwan menggunakan katalis berbasis nikel fosfida dengan penambahan zeolit ​​SAPO-11 – material berpori yang mampu menata ulang molekul linier menjadi molekul bercabang. 

Struktur inilah yang meningkatkan sifat bahan bakar pada suhu rendah. Selain itu, para peneliti memodifikasi sistem dengan boron, yang membantu menyempurnakan keasaman katalis dan mengurangi jumlah reaksi samping di mana sebagian bahan baku hilang tanpa pembentukan produk yang diinginkan.

Keunggulan utama teknologi baru ini adalah proses penghilangan oksigen dari bahan baku tanaman dan isomerisasi – konversi hidrokarbon linier menjadi hidrokarbon bercabang – telah berhasil digabungkan dalam satu tahap. 

Biasanya, operasi tersebut dilakukan secara terpisah, yang membutuhkan energi tambahan dan mempersulit produksi. Selain itu, tidak seperti katalis sulfida umum, sistem baru ini tidak memerlukan penambahan sulfur untuk mempertahankan aktivitasnya, sehingga prosesnya lebih ramah lingkungan.

Menurut para peneliti, penggunaan SAPO-11 memungkinkan penurunan titik tuang alkana yang dihasilkan hingga sekitar -20 °C, yang membuat produk tersebut cocok untuk digunakan di daerah beriklim dingin dan meningkatkan prospek produksi industri bahan bakar terbarukan dari minyak dan lemak.

Sebagai bahan baku model, para ilmuwan menggunakan metil palmitat, yang merupakan senyawa organik turunan asam palmitat dan ditemukan dalam banyak lemak tumbuhan dan hewan. Zat ini sering digunakan dalam penelitian sebagai model sederhana minyak nabati. Di masa depan, seiring dengan peningkatan skala teknologi, zat ini dapat menggantikan minyak goreng bekas.

Para peneliti kini sedang mempersiapkan pengujian katalis dalam skala percontohan, dan berencana untuk memproduksinya dalam bentuk butiran yang sesuai untuk penggunaan industri. (Tim Lapiutan)

Editor : Aan

Share:
Komentar

Berita Terkini