KALBARNEWS.CO.ID (PONTIANAK) - Masyarakat mengeluh tingginya harga tiket penerbangan domestik di wilayah Kalimantan Barat, khususnya rute antar kabupaten/kota maupun antar provinsi. (5/4/2026).Ketua Umum Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Indonesia, Suyanto Tanjung
Ketua Umum Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Indonesia, Suyanto Tanjung, mengatakan mahalnya harga tiket pesawat yang menjadi keluhan masyarakat memang lebih tinggi jika dibandingkan dengan tarif penerbangan internasional jarak dekat seperti tujuan Malaysia.
“Kita berharap pemerintah bisa mengambil kebijakan terkait mahalnya tiket ini. Bukan hanya di Pontianak, tetapi hampir di seluruh Indonesia. Bahkan tiket dari Pontianak ke Kuching atau Kuala Lumpur justru lebih murah dibandingkan penerbangan domestik,” ujarnya.
Tanjung memaparkan, sejumlah rute domestik di Kalbar seperti Pontianak –Ketapang, Pontianak – Sintang, hingga wilayah pedalaman lainnya memiliki tarif sangat tinggi, terutama untuk pesawat berbadan kecil.
Selain itu, rute Pontianak – Jakarta juga tergolong mahal dan memberatkan masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Ia menilai kondisi tersebut berdampak langsung terhadap mobilitas masyarakat dan pelaku usaha, serta berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi daerah.
“Banyak masyarakat yang kesulitan mendapatkan tiket dengan harga terjangkau. Bahkan kami sering diminta membantu mencarikan tiket, tapi tidak bisa berbuat banyak. Ini tentu menyulitkan, apalagi kondisi ekonomi saat ini juga belum sepenuhnya baik,” ucap Suyanto Tanjung, yang juga anggota DPRD Kalbar dari Dapil Sintang, Melawi dan Kapuas Hulu.
Ia juga mempertanyakan peran pemerintah dalam mengendalikan harga tiket, mengingat sejumlah maskapai penerbangan nasional seperti Garuda Indonesia, Citilink, dan Pelita Air merupakan bagian dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Swasta (BUMS).
Pemerintah seharusnya dapat melakukan intervensi kebijakan agar harga tiket kembali stabil dan terjangkau bagi masyarakat.
“Kita berharap pemerintah serius memperhatikan hal ini. Kalau maskapai milik negara saja tidak bisa mengontrol harga, tentu perlu ada evaluasi,” ujarnya.
Menurut Tanjung, maskapai asing seperti Air Asia justru mampu menawarkan harga tiket lebih kompetitif untuk rute internasional jarak dekat.
“Kenapa mereka bisa lebih murah, sementara kita tidak? Padahal sama-sama menggunakan pesawat. Bahan bakarnya juga avtur. Kecuali air asia pakai "aek kapuas", mungkin beda kali harga tiketnya. Ini yang perlu dikaji oleh pemerintah,” tegasnya.
Ia menambahkan, stabilitas harga tiket penerbangan menjadi faktor penting dalam mendorong konektivitas antarwilayah serta mempermudah aktivitas ekonomi, termasuk bagi pelaku usaha di daerah.
"Makanya, kami berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret guna menormalkan harga tiket pesawat, sehingga akses transportasi udara dapat kembali terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat," pungkasnya. (sgt)
Editor : Aan