Kalau Dapur Arang Tutup, Kami Mau Makan Apa?” Curhat Ibu Keni dari Batu Ampar
KALBARNEWS.CO.ID (KUBU RAYA) – Di tengah wacana pembatasan aktivitas dapur arang, suara kegelisahan datang dari para petani arang di kawasan Batu Ampar. Salah satunya diungkapkan Ibu Keni warga setempat yang menggantungkan hidup dari pekerjaan tersebut. (14/4/2026).
Menurut Ibu Keni, aktivitas membuat arang saat ini sudah sangat terbatas. Dalam seminggu, ia mengaku hanya bisa bekerja sekitar tiga hari dengan penghasilan rata-rata Rp70 ribu per hari.
“Sekarang kerja tidak setiap hari, paling seminggu tiga kali. Sehari dapat sekitar Rp70 ribu, itu pun tidak tentu,” ujarnya.
Ia menuturkan, penghasilan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus membiayai pendidikan anak-anaknya. Dari empat anak yang dimilikinya, tiga di antaranya masih bersekolah.
“Kami hidup dari sini. Anak-anak juga masih sekolah. Kalau dapur arang ditutup semua, kami mau makan apa?” keluhnya.
Selain mengandalkan arang, Ibu Key menyebut dirinya juga terkadang mencari tambahan dari hasil lain seperti siput atau pekerjaan serabutan. Namun, penghasilan itu dinilai jauh dari cukup untuk menopang kebutuhan keluarga.
Ia berharap, jika memang ada kebijakan penutupan atau pembatasan, pemerintah dapat memberikan solusi nyata berupa lapangan pekerjaan alternatif bagi masyarakat.
“Kalau memang ditutup, kami berharap ada kerja lain. Yang penting kami bisa tetap bekerja dan makan,” harapnya.
Curhatan Ibu Keni menjadi potret nyata dilema yang dihadapi masyarakat pesisir Batu Ampar, antara kebutuhan ekonomi dan upaya menjaga kelestarian lingkungan. (Tim Liputan)
Editor : Aan