Agus Dorong Sinergi Semua Pihak Jaga Keseimbangan Ekonomi dan Kelestarian Lingkungan
KALBARNEWS.CO.ID (KUBU RAYA) – Aktivitas produksi arang oleh masyarakat di kawasan Batu Ampar dan sekitarnya disebut telah berdampak pada kondisi hutan mangrove. Meski demikian, tingkat kerusakan dinilai masih dalam kategori terkendali dan berpeluang besar untuk dipulihkan. (14/4/2026).
Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Agus Sudarmansyah, mengungkapkan bahwa sejak dapur-dapur arang kembali aktif sekitar tahun 2000-an, pemanfaatan kayu mangrove sebagai bahan baku terus berlangsung. Berdasarkan data yang dihimpun, kerusakan hutan mangrove di wilayah tersebut diperkirakan mencapai sekitar 30 persen.
“Memang masyarakat petani arang mengambil bahan baku dari kayu mangrove. Tapi cara mereka mengambilnya tidak secara besar-besaran atau membuka hutan secara langsung,” ujarnya.
Ia menjelaskan, para petani arang umumnya hanya menebang dalam jumlah terbatas, sekitar 5 hingga 10 batang pohon untuk satu dapur produksi. Setelah itu, mereka berpindah ke lokasi lain sehingga tekanan terhadap satu titik tidak terlalu besar.
“Selama kurang lebih 25 tahun aktivitas ini berjalan, kerusakan yang terjadi baru sekitar 30 persen. Artinya, tidak bisa dibilang parah, tapi juga tidak boleh dibiarkan terus-menerus,” tegasnya.
Menurut Agus, sumber bahan baku yang berasal dari kawasan hutan lindung dan konservasi tetap harus menjadi perhatian serius pemerintah. Upaya pengendalian dan pengawasan dinilai penting agar kerusakan tidak semakin meluas.
Ia juga mendorong adanya langkah konkret berupa rehabilitasi dan pemulihan ekosistem mangrove di kawasan Batu Ampar. Terlebih, kondisi geografis wilayah yang berada di kawasan delta dinilai sangat mendukung pertumbuhan mangrove.
“Kawasan Batu Ampar ini sebenarnya sangat cocok untuk pertumbuhan bakau. Jadi proses rehabilitasi tidak terlalu berat, asalkan segera dilakukan,” tambahnya.
Agus berharap sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya dapat segera diwujudkan guna menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi masyarakat dan kelestarian lingkungan.
“Ke depan kita ingin hutan mangrove tetap lestari, tapi masyarakat juga tetap bisa beraktivitas secara berkelanjutan,” pungkasnya. (tim Liputan)
Editor : Aan