KALBARNEWS.CO.ID (KUBU RAYA) – Bupati Kubu Raya Sujiwo turun langsung meninjau sejumlah SPBU, termasuk SPBU di kawasan Kodam, untuk memastikan kondisi pasokan BBM di lapangan. Dari hasil pemantauan, ia menemukan sejumlah SPBU kehabisan stok, bahkan untuk BBM non-subsidi seperti Pertamax yang dilaporkan hilang hingga berhari-hari. (22/3/2026).
Sujiwo Turun Langsung, Soroti Kelangkaan BBM dan Distribusi Saat Tinjau SPBU Kodam
“Ini kita keliling dari satu SPBU ke SPBU lainnya, dan memang ada beberapa yang sudah tutup karena kehabisan. Bahkan Pertamax ada yang kosong sampai 5 sampai 7 hari. Ini yang memperparah kondisi,” tegas Sujiwo.
Menurutnya, kondisi ini tidak bisa dianggap biasa, apalagi menjelang Idul Fitri yang identik dengan peningkatan mobilitas masyarakat. Ia mengungkapkan, berdasarkan data Pertamina, kenaikan permintaan BBM biasanya hanya sekitar 6 persen, namun saat ini justru melonjak hingga lebih dari 20 persen.
“Artinya ini sudah hampir empat kali lipat dari yang dipersiapkan. Pasti ada sesuatu. Ini yang harus kita evaluasi bersama,” ujarnya.
Sujiwo menegaskan, dalam situasi ini semua pihak harus melakukan introspeksi, mulai dari Pertamina, pengelola SPBU, pemerintah, hingga masyarakat. Namun demikian, ia juga meminta aparat penegak hukum untuk bertindak tegas jika ditemukan adanya praktik penimbunan BBM.
“Kalau ada oknum yang memanfaatkan situasi dengan menimbun, harus ditindak. Ini tidak boleh dibiarkan,” katanya.
Ia juga mengkritisi pernyataan “stok aman” yang selama ini disampaikan, namun tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Selain itu, hilangnya Pertamax dinilai menjadi tanda tanya besar, mengingat BBM tersebut merupakan non-subsidi yang seharusnya tidak membebani negara.
“Kalau Pertalite ada, Pertamax juga ada, bahkan Turbo juga ada, masyarakat pasti beli. Tapi ini justru hilang. Ini harus dijelaskan,” tambahnya.
Selain itu, Sujiwo menyoroti manajemen distribusi di SPBU yang dinilai belum optimal. Ia menemukan banyak kasus di mana BBM habis saat antrean masih panjang, memicu keresahan masyarakat.
“Jangan sampai masyarakat sudah antre 4-5 jam, pas mau isi malah habis. Ini harus dihitung. Saat stok mulai menipis, pengiriman harus segera dilakukan supaya tidak putus,” tegasnya.
Dalam peninjauan tersebut, Sujiwo juga berkoordinasi dengan aparat kepolisian dan unsur Forkopimda untuk terus memantau situasi. Ia memastikan pengawasan akan diperketat, termasuk dengan melibatkan TNI, Polri, dan Satpol PP.
Di akhir pernyataannya, Sujiwo mengimbau masyarakat untuk tidak panik, meski di tengah situasi sulit menjelang hari raya.
“Kita harap masyarakat tetap tenang. Tapi Pertamina juga harus transparan dan bertanggung jawab. Kalau bilang stok aman, ya harus benar-benar aman,” pungkasnya. (Tim Liputan)
Editor : Aan