Sujiwo: Jalan Poros Ekonomi Kuala Dua–Mekarsari Ditargetkan Fungsional Jelang Lebaran

Editor: Redaksi author photo

 Sujiwo: Jalan Poros Ekonomi Kuala Dua–Mekarsari Ditargetkan Fungsional Jelang Lebaran
KALBARNEWS.CO.ID (KUBU RAYA) - Pemerintah Kabupaten Kubu Raya terus menggesa pembangunan jalan poros ekonomi yang menghubungkan Kuala Dua hingga Mekarsari, Sungai Asam. Selain pembangunan jalan, pemerintah juga melakukan penataan dan penertiban bangunan liar di sepanjang jalur tersebut, termasuk kawasan yang selama ini dikenal masyarakat sebagai Pasar Senggol.

Bupati Kubu Raya, Sujiwo, menjelaskan bahwa kawasan Pasar Senggol disebut demikian karena kondisi jalan yang sangat sempit. Bahkan, saat ada satu kendaraan melintas, kendaraan lain harus mengalah karena hanya bisa dilalui satu jalur.

“Nanti kalau sudah selesai, lebar jalan bisa mencapai sekitar 9 meter. Artinya, tiga mobil berpapasan pun aman. Ini manfaat besar dari penataan yang kita lakukan,” ujar Sujiwo.

Ia mengungkapkan, proses penataan berjalan lancar berkat dukungan masyarakat, kepala desa, dan unsur kecamatan. Bahkan sebelum proyek berjalan penuh, sebagian warga sudah secara sukarela membongkar bangunan mereka.

“Ini luar biasa. Saya sudah 5 sampai 7 kali ke sini untuk diskusi. Program belum jalan, masyarakat sudah bergerak. Sekarang sudah mulai penghamparan,” jelasnya.

Sujiwo menargetkan, menjelang Hari Raya Idulfitri, sekitar 90 persen ruas jalan dari Kuala Dua hingga Mekarsari, Sungai Asam, sudah layak dan fungsional. Jalan ini diproyeksikan menjadi jalur utama pergerakan ekonomi karena dilalui oleh belasan desa, termasuk wilayah Sungai Asam, Teluk Bayur, hingga Rentang Hulu dan Hilir.

Tak hanya jalan darat, Pemkab Kubu Raya juga tengah menyiapkan dermaga, mengingat kapal feri di kawasan tersebut sudah siap dioperasikan. Hal ini diprediksi akan membuat jalur tersebut semakin padat dan ramai.

“Ini akan menjadi ruas jalan poros ekonomi yang sangat penting. Penggunanya padat karena banyak desa bergantung pada jalur ini,” katanya.

Sujiwo menegaskan, penataan dilakukan bukan semata-mata pembangunan fisik, tetapi untuk menciptakan kenyamanan, keindahan, dan peningkatan ekonomi masyarakat. Ia mencontohkan kawasan yang sebelumnya berhasil ditata, di mana omzet pedagang meningkat signifikan karena pengunjung merasa nyaman.

“Kalau tertata rapi, tidak mengganggu kepentingan umum, pengunjung nyaman, otomatis pendapatan pedagang naik,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Sujiwo juga menanggapi keluhan masyarakat terkait harga gas elpiji di Kuala Dua yang mencapai Rp25 ribu. Ia memastikan hal tersebut akan menjadi perhatian pemerintah dan masuk dalam agenda penataan ke depan.

“Pemerintah itu harus hadir untuk menata semua bidang kehidupan. Mohon kerja sama semua pihak agar penataan dari Simpang Tiga WBA sampai kawasan ini bisa benar-benar terwujud,” pungkasnya.

Share:
Komentar

Berita Terkini