![]() |
| Laporan Pendapatan dan Pertumbuhan Laba Kuartal Pertama Fast Retailing |
KALBARNEWS.CO.ID (JAKARTA) – Fast Retailing Co., Ltd. (“Fast Retailing” atau “Grup”; HK kode saham: 6288), awal Januari 2026 mengumumkan hasil kinerja keuangan untuk periode tiga bulan yang berakhir pada 30 November 2025, yang merupakan kuartal pertama tahun fiskal 2026.
Secara keseluruhan, Fast Retailing mencatat pertumbuhan global yang kuat dan berkelanjutan, didorong oleh kinerja operasional UNIQLO di seluruh dunia, yang memberikan laporan pendapatan dan perolehan laba. Sebagai respons atas capaian positif di kuartal pertama, Fast Retailing menaikkan proyeksi kinerja tahunan dan dividen per saham. (27/1/2026).
Pendapatan
konsolidasi Fast Retailing pada kuartal awal ini mencapai 1,0277 triliun Yen
(111,83 triliun Rupiah), meningkat 14,8% dibandingkan periode yang sama tahun
sebelumnya, dan laba usaha[1]
naik signifikan sebesar 31,0% menjadi 205,6 miliar Yen (22,37 triliun Rupiah).
Selain itu, pendapatan keuangan mencatatkan keuntungan bersih sebesar 15,7
miliar Yen (1,71 triliun Rupiah), didorong oleh kenaikan pendapatan bunga
bersih sebesar 11,4 miliar Yen (1,24 triliun Rupiah) serta penyesuaian
translasi mata uang asing senilai 4,2 miliar Yen (0,46 triliun Rupiah) atas
aset berdenominasi mata uang asing. Secara keseluruhan, laba sebelum pajak
tercatat sebesar 226,6 miliar Yen (24,66 triliun Rupiah), tumbuh 15,3% secara
tahunan, sementara laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk
meningkat 11,7% menjadi 147,4 miliar Yen (16.03 triliun Rupiah).
Momentum
positif pada awal tahun fiskal mendorong Fast Retailing untuk menaikkan
proyeksi kinerjanya sepanjang tahun. Pada Tahun Fiskal 2026, Fast Retailing
menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 11,7% menjadi 3,80 triliun Yen
(413,4 triliun Rupiah), disertai peningkatan laba di berbagai lini bisnis yaitu
laba usaha meningkat 17,9% menjadi 650,0 miliar Yen (70,72 triliun Rupiah) dan
laba operasional masing-masing diproyeksikan naik 15,2% menjadi 650,0
miliar Yen (70,72 triliun Rupiah). Sementara itu, laba yang dapat diatribusikan
kepada pemilik entitas induk diproyeksikan naik 3,9% menjadi 450,0 miliar Yen
(48,96 triliun Rupiah).
Dibandingkan dengan proyeksi awal yang diumumkan pada Oktober 2025, revisi terbaru ini mencakup kenaikan estimasi pendapatan sebesar 50,0 miliar Yen (5,44 triliun Rupiah), serta kenaikan masing-masing 40,0 miliar Yen (4,35 triliun Rupiah) untuk laba usaha dan laba operasional, serta 15,0 miliar Yen (1,63 triliun Rupiah) untuk laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.
Optimisme tersebut juga tercermin dari kenaikan estimasi dividen tahunan per
saham yang dinaikkan sebesar 20 Yen (IDR 2.176) menjadi 540 Yen (IDR 58.752),
yang terdiri dari dividen interim dan dividen akhir masing-masing sebesar 270
Yen (IDR 29.376). Angka ini mencerminkan kenaikan total dividen setahun penuh
sebesar 40 Yen (IDR 4.352) per saham dibandingkan tahun sebelumnya, menandai
komitmen Fast Retailing untuk terus memberikan nilai tambah bagi para pemegang
saham.
Di antara seluruh segmen bisnis Fast Retailing[2], UNIQLO International mencatat peningkatan signifikan dalam pendapatan dan laba pada kuartal pertama tahun fiskal 2026, dengan pendapatan yang meningkat 20,3% menjadi 603,8 miliar Yen (65,69 triliun Rupiah) dan laba bisnis meningkat 38,0% menjadi 117,3 miliar Yen (12,76 triliun Rupiah).
Kinerja positif ini didukung
oleh pengembangan produk yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan pelanggan,
serta strategi pemasaran yang berjalan efektif. Seiring dengan itu, pengenalan
merek UNIQLO dan tingkat kepercayaan pelanggan terus berkembang secara global,
didorong oleh terus dibukanya toko-toko berkualitas tinggi yang terfokus pada
toko flagship di berbagai wilayah dunia.
Jika melihat masing-masing pasar dan wilayah, di antara operasional UNIQLO di kawasan Greater China, pasar Tiongkok Daratan mencatatkan peningkatan pendapatan serta pertumbuhan laba dua digit secara tahunan.
Sejumlah faktor mendorong kenaikan pendapatan tersebut, antara lain masuknya musim dingin sejak akhir Oktober, strategi pemasaran yang berhasil mengomunikasikan nilai produk UNIQLO, serta peningkatan jumlah pelanggan baru melalui peluncuran kolaborasi bisnis dengan JD.com. Sementara itu, pasar Hong Kong mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba seiring kuatnya penjualan koleksi Fall/Winter.
Di sisi lain, pasar Taiwan
mencatat kenaikan pendapatan pada kuartal pertama, meskipun laba mengalami
penurunan. Namun, jika tidak memperhitungkan kenaikan biaya royalti, laba pasar
Taiwan tetap tumbuh dibandingkan tahun sebelumnya.
Operasional
UNIQLO di Korea Selatan, Asia Tenggara, India, dan Australia juga mencatat
pertumbuhan dua digit pada pendapatan dan laba. Di saat yang sama, UNIQLO
Amerika Utara dan Eropa masing-masing turut membukukan pertumbuhan dua digit
pada pendapatan dan laba kuartal pertama. Peningkatan visibilitas merek dan
basis pelanggan di kedua kawasan ini terus berlanjut, seiring suksesnya
pembukaan toko-toko baru serta penguatan komunikasi nilai produk UNIQLO kepada
konsumen.
Selama periode tiga bulan, UNIQLO Jepang
melaporkan adanya lonjakan pendapatan dan laba yang signifikan. Pendapatan
tumbuh 12,2% secara tahunan menjadi 299,0 miliar Yen (32,53 triliun Rupiah),
sementara laba usaha meningkat 20,2% menjadi 62,4 miliar Yen (6,79 triliun
Rupiah). Pertumbuhan penjualan pada toko yang sejenis di kuartal pertama,
termasuk e-commerce, juga mengalami kenaikan yang impresif sebesar
11,0%. Kinerja positif ini ditopang oleh kuatnya permintaan terhadap koleksi Fall/Winter
seperti sweatpants, sweatshirt, dan jeans, serta tingginya
penjualan HEATTECH innerwear, PUFFTECH, serta berbagai produk musim
dingin lainnya saat suhu mulai menurun pada Oktober, dan performa penjualan
yang solid selama Festival ARIGATO.
Segmen bisnis GU melaporkan kenaikan tipis pada pendapatan serta peningkatan laba yang signifikan pada kuartal ini. Pendapatan naik 0,8% menjadi 91,3 miliar Yen (9,93 triliun Rupiah), sementara laba usaha melonjak 20,0% menjadi 11,4 miliar Yen (1,24 triliun Rupiah).
Perbaikan ini ditopang oleh berkurangnya kekurangan produk dan strategi diskon
yang lebih efektif, sehingga mendorong peningkatan rasio laba kotor. Meski
produk seperti kaus sheer lembut, innerwear kasual hangat, serta sweatpants
dan sweatshirt mencatat penjualan yang baik, penjualan di toko sejenis
GU pada kuartal pertama sedikit menurun secara tahunan karena belum adanya
produk yang benar-benar merepresentasikan tren fashion terkini.
Pada kuartal ini, segmen Global Brands
membukukan penurunan pendapatan dan laba. Pendapatan turun 7,6% menjadi 33,0
miliar Yen (3,6 triliun Rupiah) , sementara laba usaha turun 14,8% menjadi 1,7
miliar Yen (185 triliun Rupiah). Merek Theory juga mencatat penurunan kinerja,
sedangkan operasional gabungan Comptoir des Cotonniers dan Princesse tam.tam
mengalami penurunan pendapatan akibat penutupan toko sebagai bagian dari proses
restrukturisasi. Sementara itu, PLST justru mencatat kinerja positif dengan peningkatan
pendapatan dan laba.
Fast Retailing memiliki visi untuk menjadi
merek nomor satu di dunia serta bagian penting dari kehidupan sehari-hari yang
dipercaya oleh pelanggan secara global. Untuk mewujudkannya, Fast Retailing
berfokus pada penguatan talenta manajemen, pengembangan model bisnis
berkelanjutan, pemenuhan kebutuhan pelanggan sekaligus perluasan basis
konsumen, diversifikasi sumber pendapatan global, ekspansi bisnis GU dan Global
Brands, serta pembaruan struktur biaya agar relevan dengan era inflasi.
Sejalan dengan itu, Fast Retailing terus
meningkatkan pengenalan konsep LifeWear UNIQLO di tingkat global, yaitu sebagai
pakaian sehari-hari yang sederhana, berkualitas tinggi, dan fungsional.
Perusahaan juga berkomitmen menghadirkan produk LifeWear yang diproduksi dan
dipasarkan secara aman dan etis, dengan dampak lingkungan yang lebih rendah,
serta mendorong sirkularitas melalui program perbaikan (repair), daur
ulang (recycle), dan penggunaan kembali (reuse).
