| ‘Jemari Kecil’, Panggung Musikal dari Fantasi Tuli Membuka Rangkaian Pertunjukan Akhir Pekan di Galeri Indonesia Kaya |
Jemari Kecil mengisahkan perjalanan Mentari, seorang penari
Tuli yang kehilangan semangatnya untuk menari setelah kepergian sang ayah yang
merupakan seorang musisi. Dalam proses pencarian kembali kecintaannya terhadap
tari, Mentari bertemu dengan Awan, seorang produser musik yang membantunya
menemukan kembali makna gerak, ritme, dan ekspresi. Kisah ini disampaikan
selama kurang lebih 90 menit melalui perpaduan bahasa isyarat, musik, dan
teater yang menghadirkan pengalaman emosional tanpa batas bahasa lisan.
“Melalui pementasan Jemari Kecil, Galeri Indonesia Kaya ingin
menghadirkan panggung yang benar-benar terbuka bagi keberagaman cara
berekspresi. Kolaborasi antara seniman tuli dan dengar ini menunjukkan bahwa
seni pertunjukan dapat dihadirkan secara inklusif. Kami percaya bahwa seni memiliki
peran penting sebagai ruang temu, di mana perbedaan bukan menjadi batas,
melainkan kekayaan yang saling melengkapi. Kehadiran pementasan Jemari Kecil
oleh Fantasi Tuli di Galeri Indonesia Kaya diharapkan dapat membuka perspektif
baru bagi penonton, sekaligus memperluas ruang apresiasi terhadap karya-karya
yang lahir dari pengalaman dan cara pandang yang beragam,” ujar Renitasari
Adrian, Program Director Galeri Indonesia Kaya.
Fantasi Tuli merupakan komunitas musikal tuli pertama di Indonesia
yang mempertemukan seniman Tuli dan dengar dalam satu panggung kolaboratif.
Melalui karya-karyanya, Fantasi Tuli secara konsisten membuka ruang baru bagi
ekspresi dan apresiasi seni lintas budaya dengan tuli. Komunitas ini juga telah
mencatat sejarah sebagai komunitas tuli pertama di Indonesia yang menampilkan
pertunjukan tunggal musikalnya sendiri.
Pascal Meliala, pimpinan produksi sekaligus penulis naskah
Jemari Kecil bersama dengan Palka Kojansow melihat pertunjukan ini
sebagai wujud kolaborasi yang dibangun secara setara sejak awal proses kreatif.
Perpaduan sutradara, Hasna Mufidah yang merupakan seniman tuli dan Dhea
Seto dari kalangan dengar menghadirkan pendekatan artistik yang saling
melengkapi. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa semangat inklusivitas tidak hanya
hadir di atas panggung melalui para pemain, namun juga tumbuh kuat dalam proses
penciptaan karya di balik layar, mulai dari pengembangan cerita hingga
penerjemahan emosi ke dalam bahasa gerak, musik, dan visual. Musikal ini juga
diperkaya dengan semangat inklusivitas lintas generasi, di mana pementas yang
terlibat datang dari usia yang beragam, mulai dari 12 hingga 43 tahun.
“Kata kata ‘musikal’ dan ‘tuli’ seharusnya tidak berada di kalimat
yang sama. Hal yang paling sulit dari proses produksi ini bukanlah mengajarkan
teman tuli menari atau menjelaskan tentang musik. melainkan membuat sebuah
cerita yang baik dan menghibur. Teman-teman tuli mempunyai keinginan belajar
dan semangat yang tinggi selama proses produksi ini. Hal itu membuat kami sadar
bahwa kolaborasi di Fantasi Tuli ini menunjukan bahwa dengan akses yang tepat,
di lingkungan yang tepat, bersama orang orang yang tepat, semua hal bisa
dilakukan,” ujar Pascal Meliala.
Kehadiran Jemari Kecil di Galeri Indonesia Kaya merupakan
pembuka dari rangkaian musikal Indonesia yang menjadi tema bulan ini dan dapat
disaksikan secara gratis oleh para pecinta seni pertunjukan Indonesia sampai
dengan Maret mendatang. Berikut jadwal pementasan akhir pekan di Galeri
Indonesia Kaya:
|
Hari, Tanggal, dan Jam
Pementasan |
Judul Pementasan |
|
Sabtu, 31 Januari 2026 |
Jemari Kecil |
|
Sabtu, 07 Februari 2026 |
Rumah Pikiran & Hati oleh Jakarta Art House |
|
Sabtu, 14 Februari 2026 |
Sie Jin Kwie Ceng Tang oleh Sanggar Wayang Potehi Siauw Pek San |
|
Sabtu, 28 Februari 2026 |
Lika-Liku (Tur) Belakang Panggung oleh Pranalika Production |
|
Sabtu, 7 Maret 2026 |
Kisah Abadi oleh Unlimitale |
|
Sabtu, 14 Maret 2026 |
Pentas Musikal “Kakek dan Perahu Kuning” oleh Waktunya Main |
Pementasan ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan dalam
menghadirkan karya-karya seni yang tidak hanya merayakan keberagaman budaya,
tetapi juga mendorong inklusivitas dan aksesibilitas dalam seni pertunjukan.
Dengan menghadirkan pementasan setiap minggunya, Galeri Indonesia Kaya terus
membuka ruang bagi komunitas untuk berkarya, berkolaborasi, dan menyampaikan
cerita yang relevan dengan kehidupan masyarakat hari ini. (Tim Liputan)
editor : Aan