Bupati Sujiwo: Bantuan untuk Majelis Taklim Harus Produktif dan Dorong Pembangunan Manusia

Editor: Redaksi author photo

 Bupati Sujiwo: Bantuan untuk Majelis Taklim Harus Produktif dan Dorong Pembangunan Manusia
KALBARNEWS.CO.ID (KUBU RAYA) – Bupati Kubu Raya Sujiwo menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Kubu Raya dalam mendukung peran organisasi keagamaan, khususnya Majelis Taklim, sebagai mitra strategis dalam percepatan pembangunan manusia.


Hal tersebut disampaikan Sujiwo saat menghadiri kegiatan KMD (Kemah Majelis Dakwah), yang menurutnya merupakan kali ketiga ia dapat hadir secara langsung di tengah kesibukannya sebagai kepala daerah.


“Alhamdulillah, ini kali ketiga saya bisa menghadiri kegiatan KMD. Pesertanya juga bertambah, pengurus daerah semakin banyak, dan ini menjadi energi positif bagi kita semua,” ujar Sujiwo.


Dalam kesempatan tersebut, Sujiwo mengungkapkan bahwa selama dua tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya telah menyalurkan bantuan melalui APBD dengan total hampir Rp9 miliar, tepatnya sekitar Rp8,8 miliar, kepada Majelis Taklim Permata beserta pengurus cabang dan ranting.


Ia berharap dana bantuan tersebut dapat dimanfaatkan sebaik mungkin dan diarahkan menjadi dana yang produktif, bukan hanya untuk kegiatan seremonial semata.


“Harapan saya, bantuan ini tidak habis begitu saja, tetapi menjadi dana produktif yang punya dampak besar, khususnya bagi ibu-ibu majelis taklim. Kepentingannya jelas, yakni membantu percepatan pembangunan nonfisik atau pembangunan manusia,” tegasnya.


Sujiwo menilai peran Majelis Taklim sangat strategis, tidak hanya dalam dakwah dan penguatan spiritual keagamaan, tetapi juga dalam edukasi, pembentukan karakter, serta penyampaian informasi yang konstruktif kepada masyarakat.


“Ke depan, kami berharap majelis taklim benar-benar mengambil peran dalam pembangunan manusia, mulai dari pendidikan karakter, edukasi sosial, hingga penguatan nilai-nilai kebangsaan,” katanya.


Ia juga mendorong agar organisasi keagamaan, termasuk Majelis Taklim, dapat menuju kemandirian ekonomi. Menurutnya, contoh tersebut sudah mulai terlihat di sejumlah pondok pesantren yang kini mampu mengelola usaha secara mandiri.


“Pesantren sekarang sudah banyak yang mandiri secara ekonomi. Ini contoh yang baik. Organisasi keagamaan idealnya tidak sepenuhnya bergantung, walaupun tidak harus mandiri 100 persen,” jelas Sujiwo.


Sebagai bentuk perhatian nyata, Sujiwo juga menyampaikan komitmen bantuan wakaf Al-Qur’an senilai Rp50 juta. Bantuan tersebut diharapkan membawa keberkahan sekaligus membantu masyarakat, terutama di wilayah pedalaman yang selama ini masih kekurangan sarana keagamaan.


“Insyaallah kami akan terus hadir. Wakaf Al-Qur’an ini bukan hanya soal ibadah, tapi juga kepedulian kita untuk masyarakat pedalaman yang sangat membutuhkan,” pungkasnya. (Tim Liputan)

Editor : Aan

Share:
Komentar

Berita Terkini