Bupati Sujiwo: Paradigta Wujud Nyata Pemberdayaan Perempuan Tangguh Kubu Raya

Editor: Redaksi author photo

 Bupati Sujiwo: Paradigta Wujud Nyata Pemberdayaan Perempuan Tangguh Kubu Raya
KALBARNEWS.CO.ID (KUBU RAYA)  – Bupati Kubu Raya Sujiwo menegaskan bahwa Akademi Paradigta Indonesia merupakan ruang strategis pemberdayaan perempuan yang sejalan dengan visi Pemerintah Kabupaten Kubu Raya dalam memperkuat peran perempuan sebagai pilar pembangunan daerah. Hal itu disampaikannya usai menghadiri Wisuda Akademi Paradigta Indonesia yang meluluskan hampir 200 perempuan hebat dari berbagai kecamatan. (7/1/2026).


Bupati Sujiwo menjelaskan, istilah Paradigta atau Paradika bermakna perempuan hebat, tangguh, dan tegar. 


Akademi Paradigta hadir sebagai wadah transfer pengetahuan, baik bersifat vokasi, terapan, maupun penguatan kapasitas di bidang lain, mulai dari komunikasi, kepercayaan diri, kewirausahaan, hingga edukasi kepada masyarakat.


“Tadi kita lihat langsung, walaupun latar belakang mereka beragam, bahkan ada yang sebelumnya sangat sederhana, tapi karena mengikuti pelatihan mereka jadi percaya diri, mampu berkomunikasi, berwirausaha, dan menyampaikan informasi kepada masyarakat. Tujuan utamanya adalah pemberdayaan,” ujar Sujiwo.


Bupati Sujiwo  menambahkan sebagian besar peserta Akademi Paradigta merupakan perempuan kepala keluarga. Menurutnya, hal tersebut menjadi bukti bahwa perempuan Kubu Raya memiliki ketangguhan luar biasa dalam menghadapi tantangan hidup.


“Ini perempuan-perempuan tegar, tangguh, dan hebat. Dan ini linier dengan komitmen saya dan jajaran pemerintah daerah yang sangat konsen terhadap pemberdayaan perempuan,” tegasnya.


Sujiwo mengutip pepatah bahwa perempuan adalah tiang negara. Mengurus ibu-ibu dan kaum perempuan, lanjutnya, berarti memperkokoh fondasi bangsa. Ia juga menekankan peran ibu sebagai madrasah utama dan pertama bagi anak-anak, bahkan sebelum mengenal pendidikan formal seperti PAUD dan TK.


“Atas dasar itu, pemerintah daerah memberikan perhatian khusus kepada organisasi-organisasi perempuan seperti PKK, GOW, Dharma Wanita, BKMT, WKRI, termasuk hari ini ibu-ibu Paradigta,” katanya.


Sebagai bentuk dukungan nyata, Sujiwo menegaskan bahwa perhatian pemerintah harus diwujudkan dalam kebijakan dan anggaran. Ia menyebutkan pihaknya akan mengupayakan tambahan anggaran untuk keberlanjutan Akademi Paradigta, baik melalui perubahan maupun penyempurnaan anggaran.


“Tadi saya minta ditambahkan sekitar Rp100 juta untuk mendukung operasional mentor. Selain itu, di setiap kecamatan kita upayakan ada alokasi sekitar Rp10 juta untuk mendukung kegiatan perempuan, supaya semangat pemberdayaan ini terus hidup,” jelasnya.


Menanggapi isu kekerasan terhadap perempuan dan anak yang mencuat di masyarakat, Sujiwo menyatakan sikap tegas. Ia mengaku sangat prihatin dan mengecam keras jika benar terjadi kasus kekerasan yang melibatkan orang tua kandung.


“Kalau itu benar terjadi, saya sangat mengutuk keras. Itu perbuatan yang sangat menyedihkan dan tidak berperikemanusiaan. Penegakan hukum harus dilakukan secara tegas agar memberi efek jera dan tidak terulang kembali,” ujarnya.


Ia menilai persoalan tersebut tidak hanya soal hukum, tetapi juga menyangkut akhlak, moral, dan adab. Karena itu, pemberdayaan perempuan dan penguatan peran ibu dalam keluarga menjadi sangat penting sebagai benteng utama pembentukan karakter generasi masa depan.


“Pemberdayaan perempuan bukan sekadar program, tapi investasi jangka panjang untuk menjaga moral, membangun keluarga, dan memperkuat masa depan daerah,” pungkas Sujiwo. (Tim Liputan)

editor : Aan

Share:
Komentar

Berita Terkini