Bayu, M.Pd: Masa Depan Bangsa Ditentukan di Bangku Sekolah Hari Ini

Editor: Redaksi author photo
Bayu, M.Pd Dosen Universitas Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas (UNISSAS).

KALBARNEWS.CO.ID (SAMBAS) - Masa depan sebuah bangsa sejatinya tidak sedang dirancang di gedung-gedung megah kekuasaan, melainkan di ruang-ruang kelas yang sederhana. Di sanalah nilai, karakter, dan cara berpikir generasi penerus dibentuk. Apa yang terjadi di bangku sekolah hari ini akan menentukan wajah Indonesia beberapa dekade mendatang.

 

Namun demikian, realitas pendidikan nasional masih menyisakan berbagai kegelisahan. Di tengah laju perkembangan teknologi yang begitu cepat, sekolah kerap tertinggal dalam menyiapkan peserta didik menghadapi tantangan dunia nyata.

 

Kurikulum silih berganti, tetapi substansi pembelajaran belum sepenuhnya menyentuh persoalan mendasar, yakni membentuk manusia yang berpikir kritis, berkarakter kuat, dan memiliki daya saing.

 

Digitalisasi pendidikan yang kerap digadang sebagai solusi juga tidak selalu berjalan ideal. Di satu sisi, teknologi membuka akses ilmu pengetahuan tanpa batas. Namun di sisi lain, kesenjangan digital masih nyata, terutama di wilayah perbatasan dan pedesaan.

 

Sekolah dengan keterbatasan fasilitas dipaksa berlari dalam kompetisi yang sejak awal tidak setara.

 

Lebih jauh, pendidikan hari ini sering terjebak pada orientasi angka dan kelulusan. Nilai rapor, peringkat, dan sertifikat kerap dianggap lebih penting dibandingkan kejujuran, empati, serta tanggung jawab sosial. Padahal, bangsa ini tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga generasi yang berakhlak dan berintegritas.

 

Dalam konteks tersebut, peran guru menjadi sangat krusial. Guru bukan sekadar penyampai materi pelajaran, melainkan penentu arah masa depan bangsa. Sayangnya, tidak semua guru memperoleh dukungan yang memadai, baik dari sisi kesejahteraan, peningkatan kapasitas, maupun kebijakan yang berpihak pada profesionalisme mereka.

 

Di sisi lain, tantangan pembentukan karakter generasi muda kian kompleks. Arus informasi melalui media sosial sering kali lebih cepat memengaruhi pola pikir siswa dibandingkan nilai-nilai yang ditanamkan di sekolah. Tanpa pendampingan yang tepat, sekolah berpotensi kalah pengaruh dari layar gawai yang setiap hari berada di genggaman peserta didik.

 

Pendidikan seharusnya menjadi ruang aman untuk menanamkan nilai kebangsaan, toleransi, dan sikap kritis. Di tengah polarisasi sosial dan menguatnya sikap ekstrem, sekolah memiliki peran strategis sebagai benteng penanaman nilai persatuan, kemanusiaan, dan kebhinekaan.

 

Membangun masa depan bangsa berarti berani menata ulang arah pendidikan hari ini. Sekolah perlu diberi ruang untuk berinovasi, guru harus diberdayakan dan dihargai, serta siswa diposisikan sebagai subjek pembelajaran, bukan sekadar objek kebijakan.

 

Masyarakat dan orang tua pun tidak bisa lepas tangan. Pendidikan bukan semata urusan sekolah, melainkan tanggung jawab kolektif. Lingkungan keluarga dan sosial harus berjalan seiring dengan nilai-nilai yang ditanamkan di ruang kelas.

 

Pada akhirnya, jika kita ingin melihat Indonesia yang maju, adil, dan bermartabat, jawabannya ada di bangku sekolah hari ini. Mengabaikan pendidikan berarti menunda masa depan. Sebaliknya, membenahi pendidikan sejak sekarang adalah investasi paling jujur untuk menyelamatkan generasi dan bangsa.

 

Penulis adalah Dosen Universitas Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas (UNISSAS).

Share:
Komentar

Berita Terkini