
Perayaan Hari Tari Sedunia Berlanjut di Galeri Indonesia Kaya Lewat ‘Tari Obah Gerabah’ dari Sanggar Seni Lemah Urip
KALBARNEWS.CO.ID (JAKARTA) – Perayaan Hari Tari Sedunia oleh Bakti Budaya
Djarum Foundation tidak berhenti pada peluncuran video Tari Kreasi Nusantara. Melalui Galeri Indonesia Kaya,
perayaan ini berlanjut sepanjang bulan Mei dengan menghadirkan berbagai
pertunjukan tari dari sanggar seni dan komunitas di Indonesia. Salah satu karya
yang hadir dalam rangkaian tersebut adalah Tari Obah Gerabah dari Sanggar
Seni Lemah Urip, sebuah pertunjukan yang mengangkat kisah kehidupan para
pengrajin gerabah melalui perpaudah tari, musik, dan eksplorasi artistik
berbasis budaya lokal.(23/5/2026).
“Perayaan Hari Tari Sedunia tidak berhenti pada satu momentum saja.
Melalui rangkaian pertunjukan sepanjang Mei di Galeri Indonesia Kaya, kami
ingin menghadirkan ruang apresiasi bagi ragam tari dan komunitas seni yang
terus menjaga tradisi di tengah masyarakat. Menghadirkan Tari Obah Gerabah oleh
Sanggar Seni Lemah Urip menjadi salah satu bentuk apresiasi terhadap pelaku
budaya yang menjaga tradisi melalui karya seni yang dekat dengan kehidupan
sehari-hari,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Galeri
Indonesia Kaya.
Melalui perpaduan tari, musik dan properti gerabah, Tari Obah Gerabah
mengajak penonton menyelami kehidupan sederhana para pengrajin gerabah yang
hidup berdampingan dengan alam, menjunjung semangat gotong royong, serta
menjaga tradisi yang diwariskan lintas generasi. Gerabah dalam pertunjukan ini
tidak hanya hadir sebagai elemen artistik, tetapi juga menjadi simbol kerja
kolektif, ketekunan, dan sumber penghidupan masyarakat.
Bagi masyarakat di sekitar Borobudur, gerabah bukan sekadar kerajinan
tradisional, tetapi juga menjadi mata pencaharian utama untuk menyambung hidup
keluarga. Di balik setiap gerabah yang dihasilkan, terdapat proses panjang yang
dikerjakan secara turun-temurun, mulai dari pengolahan tanah, pembentukan,
hingga pembakaran. Melalui Tari Obah Gerabah, Sanggar Seni Lemah Urip
menghadirkan refleksi tentang perjuangan para pengrajin dalam mempertahankan
tradisi sekaligus menjaga gerabah tetap relevan sebagai sumber penghidupan di
tengah perubahan zaman.
Pertunjukan
ini dibawakan oleh penari anak dan dewasa dengan melibatkan 13 penampil di atas
panggung, termasuk penari dan pemusik. Dengan iringan musik yang memanfaatkan
bunyi-bunyian dari gerabah, karya ini menghadirkan pengalaman pertunjukan yang
kaya akan nuansa tradisional sekaligus memperlihatkan kreativitas dalam mengolah
unsur budaya menjadi pertunjukan yang dinamis. Menariknya lagi, penonton juga
diajak memainkan alat musik gerabah dan merasakan emosi serta energi penari
yang tercurah melalui dentik dan ritme yang dihasilkan musik gerabah.
Karya tari
berdurasi sekitar 60 menit ini dikoreografikan oleh Derra Kartika dan memadukan
unsur tari tradisional dengan eksplorasi teatrikal melalui penggunaan properti
gerabah, tata musik, serta kostum yang terinspirasi dari keseharian masyarakat
pengrajin. “Melalui Tari Obah Gerabah, kami ingin menunjukkan bahwa gerabah
bukan sekadar benda kerajinan, tetapi bagian dari kehidupan masyarakat yang
menjadi sumber penghidupan keluarga secara turun-temurun. Kami berharap
pertunjukan ini dapat membuat masyarakat lebih mengenal perjuangan para
pengrajin sekaligus memahami pentingnya menjaga tradisi agar tetap hidup dan
relevan,” ujar Derra.
Sanggar Seni
Lemah Urip sendiri merupakan komunitas seni yang berfokus pada pendidikan
non-formal bagi masyarakat, khususnya anak-anak. Berbasis di Desa Karanganyar,
Kecamatan Borobudur, sanggar ini memberikan kegiatan pendidikan yang dijalankan
secara gratis dalam tiga kelas utama, yakni Sekolah Gerabah, Kelas Tari
Gerabah, dan Kelas Musik Gamelan. Melalui pendekatan tersebut, Sanggar Seni
Lemah Urip tidak hanya menjadi ruang belajar seni, tetapi juga ruang
pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat.
“Di Sanggar
Seni Lemah Urip, kami ingin menciptakan ruang belajar yang dekat dengan
kehidupan masyarakat. Gerabah, tari, dan gamelan bukan hanya kesenian bagi
kami, tetapi bagian dari identitas dan keseharian warga yang perlu terus dijaga
serta diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar pendiri Sanggar Seni Lemah
Urip, Muhammad Jafar atau kerap disapa Jepe.
Komitmen
Sanggar Seni Lemah Urip dalam pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat
juga tercermin melalui keterlibatan mereka dalam berbagai program berbasis
komunitas di kawasan Borobudur. Sanggar ini turut menjadi bagian dari jejaring
komunitas budaya dalam program UNESCO Borobudur Youth Engage yang berfokus pada
penguatan peran generasi muda dan masyarakat lokal dalam menjaga warisan
budaya, menghadirkan pertunjukan seni Lakuning Tanah dalam rangkaian puncak
Festival Lampion Waisak Nasional 2025, serta aktif berpartisipasi pada Festival
Gerabah tahun 2019 hingga 2025.
Tari Obah
Gerabah oleh Sanggar Seni Lemah Urip menjadi bagian dari rangkaian pertunjukan
tari yang dihadirkan Galeri Indonesia Kaya sepanjang Mei 2026 dalam rangka
merayakan Hari Tari Sedunia. Sebelumnya, Galeri Indonesia Kaya telah
menghadirkan pertunjukan Penari Petani oleh EkosDance Company, Lintas
Generasi Tari Topeng Losari oleh Sanggar Purwa Kencana Nani Topeng Lestari,
dan Galodo oleh Jagatari, sementara rangkaian perayaan akan masih akan
berlanjut melalui pertunjukan Tamasya di Medan Terliar oleh DRKR
Kolektif pada 30 Mei 2026 mendatang. Kedepannya, Galeri Indonesia Kaya akan
terus menghadirkan beragam pertunjukan seni setiap akhir pekan dengan informasi
lebih lanjut yang dapat diakses melalui situs IndonesiaKaya.com. (Tim Liputan)
Editor : Aan